Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kembali menghidupkan semangat keberagaman melalui Festival Toleransi dan Budaya 2025—sebuah ajang yang bukan hanya merayakan kekayaan budaya bangsa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas agama, lintas tradisi, dan lintas komunitas. Festival ini dirancang sebagai tempat belajar bersama sekaligus merayakan perbedaan, yang selama ini menjadi fondasi kuat kehidupan berbangsa di Indonesia.
Beragam kegiatan digelar dalam festival ini, mulai dari sarasehan lintas iman, dialog kebudayaan, pertunjukan seni, pagelaran Seren Taun, pawai budaya, pameran batik etnik, hingga ritual tumbuk padi tradisional. Setiap aktivitas memiliki satu tujuan: menghadirkan interaksi yang hangat, setara, dan penuh penghargaan terhadap ekspresi keagamaan maupun budaya dari berbagai penjuru Indonesia. Festival ini menjadi bukti bahwa toleransi tidak sekadar slogan, melainkan praktik nyata di tengah masyarakat.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung bagaimana produk makanan berbahan baku singkong dihasilkan, sekaligus menunjukkan dukungan nyata pemerintah dalam meningkatkan daya saing UMKM. Kehadiran pemerintah bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi bentuk fasilitasi konkret agar pelaku usaha kecil dapat memperluas pasar dan menembus peluang baru, termasuk pasar ekspor. Langkah seperti ini penting karena banyak UMKM yang sebenarnya memiliki kualitas produk yang kompetitif, namun masih terkendala akses pasar dan pendampingan teknis.
Sementara itu, layanan Export Center Surabaya menunjukkan kinerja yang cukup impresif. Hingga saat ini, tercatat sudah terealisasi 1.612 sesi konsultasi dari target 1.650, atau sekitar 97,70% — rata-rata 146 kali konsultasi per bulan. Angka ini bukan hanya menunjukkan tingginya kebutuhan pelaku usaha terhadap pendampingan ekspor, tetapi juga menandakan bahwa layanan pemerintah berjalan aktif, terstruktur, dan semakin relevan dengan kebutuhan UMKM yang ingin naik kelas. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Export Center akan menjadi pusat rujukan ekspor di tingkat regional.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan turut didampingi Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor, Bayu Wicaksono Putro, yang mempertegas komitmen kementerian dalam memastikan ekosistem ekspor berjalan terpadu — dari produksi, pendampingan, hingga penetrasi pasar global.
Wakil Menteri Perdagangan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung proses produksi makanan berbahan baku singkong sekaligus memberikan dukungan nyata bagi pelaku UMKM. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk lokal dan membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Singkong dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas ini memiliki potensi besar—baik dari sisi ketersediaan bahan baku maupun inovasi produk—yang jika dikembangkan secara serius dapat menjadi ikon baru dalam industri pangan kreatif Indonesia. Pemerintah menilai sektor UMKM berbasis pangan lokal ini berpeluang besar masuk pasar ekspor karena memiliki karakteristik unik, bahan baku berkelanjutan, dan sedang diminati konsumen global.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah memaparkan kinerja Export Center Surabaya, yang menunjukkan pencapaian memuaskan. Hingga saat ini, layanan konsultasi ekspor mencapai 1.612 kali dari target 1.650, atau 97,70%, dengan rata-rata 146 sesi per bulan. Capaian ini menegaskan bahwa Export Center Surabaya semakin menjadi pusat pendampingan yang aktif, terukur, dan dibutuhkan oleh pelaku usaha yang ingin menembus pasar global.
Angka tersebut juga menunjukkan dua hal penting: tingginya kepercayaan UMKM terhadap fasilitas pemerintah, dan semakin kuatnya ekosistem ekspor yang dibangun melalui konsultasi, pelatihan, hingga pendampingan produk. Jika sinergi ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin pelaku usaha kecil Indonesia dapat lebih cepat masuk ke rantai pasok global.
Dalam kunjungan tersebut, Wamendag turut didampingi Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor, Bayu Wicaksono Putro, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat strategi ekspor berbasis UMKM.



