Perjalanan sembuh yang dialami Inca dan Tika menjadi pengingat penting bahwa Tuberkulosis (TBC) bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kedisiplinan minum obat, dukungan keluarga yang kuat, serta layanan kesehatan gratis dari pemerintah, keduanya membuktikan bahwa penyakit ini bisa ditaklukkan.
Dua warga Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara ini menjalani enam bulan pengobatan tanpa putus, rutin kontrol ke Puskesmas, dan menjaga pola makan bergizi hingga akhirnya dinyatakan sembuh. “Obatnya benar-benar gratis. Kami bersyukur pemerintah daerah begitu serius membantu kami sehat kembali,” ujar Inca saat ditemui di Car Free Day Stadion Utama Sumut.
Inca bercerita, ia tertular TBC dari suaminya yang lebih dulu didiagnosis. Setelah memeriksakan diri ke Puskesmas, ia pun dinyatakan positif. Sejak itu, ia disiplin minum obat setiap malam dan mengonsumsi buah untuk menjaga stamina. Dukungan keluarga, terutama anak-anaknya, menjadi sumber energi terbesar untuk terus bertahan.
Perjalanan Tika bahkan lebih berat. Ia didiagnosis mengidap MDR-TB, jenis TBC yang kebal obat lini pertama. Obat yang harus diminum jangka panjang sempat membuatnya hampir menyerah. Namun dengan ketekunan dan pendampingan tenaga kesehatan, ia pun pulih setelah enam bulan terapi. “Walaupun kena TBC kebal obat, asal rutin minum obat, akhirnya saya sembuh juga,” ujarnya dengan wajah cerah.
Kisah dua perempuan ini menjadi sorotan dalam Kampanye Eliminasi TBC Menuju Sumut Bebas TBC 2030 yang digelar saat CFD dan diikuti ribuan masyarakat. Kampanye ini menegaskan bahwa perjuangan melawan TBC bukan hanya jargon, tapi gerakan nyata.
Pj Sekda Sumut, Sulaiman Harahap, menjelaskan bahwa capaian Sumut untuk indikator SPM baru 70 persen dari target 100 persen, dan penemuan kasus baru baru mencapai 60 persen dari target 90 persen. Angka ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah. Namun di sisi lain, layanan pengobatan gratis dan ketersediaan obat yang dijamin pemerintah menjadi bukti keseriusan negara dalam menuntaskan TBC.
Ia menegaskan TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan sepenuhnya. Tantangannya justru ada pada kedisiplinan pasien dan dukungan lingkungan sekitar. Jika ini bisa diperkuat, target Sumut Bebas TBC 2030 bukan hal mustahil, apalagi dengan tema kampanye nasional 2025: “Sumut Bergerak, TBC Tersingkir”.
Dari sisi nasional, Deputi Kemenko PMK Lilik Kurniawan mengingatkan bahwa Indonesia masih berada di posisi kedua dunia untuk jumlah kasus TBC, dengan lebih dari satu juta kasus baru dan 125 ribu kematian setiap tahun. Karena itu, pemberantasan TBC tidak bisa hanya diserahkan pada Dinas Kesehatan. Peran keluarga, tetangga, dan komunitas justru sangat menentukan keberhasilan pasien menjalani pengobatan. Mengucilkan pasien hanya memperburuk keadaan; mendampingi merekalah yang mempercepat kesembuhan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjalankan Perpres 67/2021 tentang Penanggulangan TBC. Target eliminasi pada 2030 mengharuskan seluruh level pemerintahan hingga desa bergerak bersama. TOSS TBC — Temukan, Obati, Sampai Sembuh — bukan hanya slogan, tetapi strategi yang terbukti efektif, seperti yang dialami Inca dan Tika.
Kisah mereka menjadi bukti hidup bahwa ketekunan, dukungan keluarga, dan komitmen pemerintah bisa menyelamatkan nyawa. Jika dua warga Batang Kuis saja mampu melawan TBC hingga tuntas, maka gerakan masyarakat luas tentu bisa membawa Sumatra Utara — bahkan Indonesia — menuju mimpi besar: bebas TBC 2030.



