Melalui pembekalan pedagogi yang matang, praktik lapangan selama satu tahun penuh, hingga penguatan profesionalisme guru, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) terbukti melahirkan pendidik yang lebih adaptif, reflektif, dan peka terhadap kebutuhan belajar murid masa kini.
Direktur PPG, Ferry Maulana Putra, menegaskan bahwa tuntutan terhadap profesi guru kini semakin tinggi dan tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional.
“Menjadi guru bukan hanya pilihan karier yang mulia, tetapi juga punya dampak langsung terhadap masa depan murid. Karena itu, guru harus terus meningkatkan keterampilan, mengikuti perkembangan zaman, dan berhak mendapatkan peningkatan kesejahteraan melalui tunjangan lulusan PPG,” ujar Ferry
Contoh nyata perubahan itu terlihat di SMA Negeri 1 Samarinda, Kalimantan Timur, melalui pengalaman Alexander Rendi Hm, guru sejarah. Ia merasakan transformasi besar setelah mengikuti PPG—mulai dari kemampuan melakukan asesmen awal hingga merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tiap murid.
“PPG membuka wawasan saya tentang pentingnya pemetaan kemampuan awal murid. Dari situ saya dapat menyusun metode pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Di akhir proses belajar, saya juga bisa mengevaluasi hasilnya sebagai dasar perbaikan,” jelasnya.
Pendekatan seperti ini memberi ruang bagi guru untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga membaca perkembangan murid secara sistematis—kompetensi yang kini menjadi inti PPG dan sangat dibutuhkan di era pendidikan berbasis data.
Cerita serupa datang dari Aulia Nurul Efendi, lulusan PPG Guru Tertentu yang mengajar kimia. Ia mengaku PPG membuka cara pandang baru dalam mengelola pembelajaran, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dan penguatan keterampilan sosial emosional murid.
“Sebagai guru kimia, saya merancang metode belajar berbasis media digital dan AI. Di kelas, murid saya bagi ke beberapa kelompok dan diminta menemukan rumus melalui kartu-kartu konsep. Semua ini saya kembangkan dari ilmu yang saya dapatkan selama PPG,” tuturnya.
Menurut Aulia, kemampuan mengelola dinamika kelas dan konseling sosial-emosional menjadi bekal penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas tekanan—hal yang sering terabaikan dalam praktik mengajar tradisional.



