Upacara Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di halaman Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, menjadi ruang refleksi bagi bangsa untuk kembali menghormati keteguhan dan dedikasi jutaan guru Indonesia. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi penjaga nilai, pembentuk karakter, sekaligus penentu arah peradaban. Suasana itu begitu terasa dalam upacara yang berlangsung khidmat pada Senin pagi.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengingatkan kembali lima nasihat Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan kepada para murid—sebuah pesan sederhana namun kuat sebagai fondasi karakter bangsa. “Belajar yang baik, mencintai orang tua, menghormati guru, rukun dengan teman, serta mencintai tanah air,” ucap Suharti. Ia menegaskan bahwa penghormatan kepada guru bukan sekadar etika, tetapi kunci kesuksesan seorang anak. “Muliakanlah dirimu dengan memuliakan gurumu. Doa dan ridha guru menentukan masa depanmu.”
Upacara dihadiri 287 peserta dari tujuh satuan kerja serta 100 guru berprestasi nasional. Suharti memimpin jalannya upacara dengan busana adat Jawa, menegaskan bahwa keberagaman budaya adalah kekuatan pendidikan Indonesia. Di hadapan para peserta, ia kembali menekankan bahwa menjadi guru menuntut “stamina intelektual, sosial, dan moral” yang kuat. Guru, menurutnya, harus terus memperbarui niat dan motivasi agar mampu menghadapi tantangan pendidikan masa kini yang semakin kompleks.
Testimoni para peserta menambah warna peringatan HGN tahun ini.
Dwi Anik, guru SLB Negeri 5 Jakarta, menegaskan bahwa inovasi adalah harga mati, terutama bagi murid berkebutuhan khusus. “Guru tidak boleh terjebak di zona nyaman. Perubahan begitu cepat, maka kita pun harus tumbuh. Guru yang bahagia itu kunci, karena hati yang bahagia membuat kita bisa melayani murid dengan sepenuh hati,” tuturnya.
Sulistyani, Kepala SMKN 34 Jakarta sekaligus peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi Transformasi Kepala SMK, juga merasakan momentum HGN 2025 begitu spesial. Ia berharap peningkatan kesejahteraan guru tetap menjadi agenda utama pemerintah. “Ini pengalaman yang luar biasa. Tahun ini, saya bisa hadir langsung bersama kepala sekolah dan guru berprestasi dari seluruh Indonesia.”
Penghargaan juga disampaikan oleh para anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) yang bertugas mengibarkan bendera. Lavina Jasmine menekankan betapa besarnya peran guru dalam membentuk karakter generasi muda. “Terima kasih kepada semua guru yang membentuk kami menjadi pribadi yang lebih baik.”
Asyraf Habbi Pratama menambahkan bahwa guru adalah pilar untuk mewujudkan Generasi Emas 2045. “Mereka membimbing kami dengan tulus agar suatu hari nanti kami dapat berkontribusi lebih untuk Indonesia.”
Dalam amanatnya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pendidikan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada guru. Keberhasilan pendidikan adalah kerja sama antara sekolah, orang tua, keluarga, dan masyarakat luas. “Jangan menilai guru hanya dari angka-angka. Orang tua adalah pendidik pertama. Kita perlu memperbaiki komunikasi antara rumah dan sekolah,” tegasnya.
Sebagai penutup rangkaian peringatan HGN 2025, Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) akan menggelar Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan 2025 pada 27 November di Jakarta. Program ini dirancang bukan sekadar seremoni, tetapi ruang belajar antar-guru, wadah saling menginspirasi, serta pemantik inovasi berkelanjutan.
Tujuannya jelas: menjadikan HGN 2025 lebih berarti dan lebih hidup—sebuah perayaan ketulusan, keteguhan, dan dedikasi para pendidik Indonesia.



