Indonesia Unjuk Taring! Lima Hasil Strategis Resmi Disahkan di Sidang Umum UNESCO

Indonesia resmi menutup kiprahnya dalam Sidang Umum ke-43 UNESCO dengan membawa pulang lima capaian penting di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sidang yang berlangsung di Samarkand, Uzbekistan, ini menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinya Bahasa Indonesia digunakan sebagai salah satu bahasa resmi UNESCO. Bahkan, pantun pembuka dan penutup yang dibacakan Menteri Pendidikan Dasar & Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, pada pernyataan nasional Indonesia sukses mencuri perhatian dan mendapat sambutan hangat dari peserta sidang. Momen ini bukan hanya perayaan bahasa, melainkan simbol pengakuan dunia terhadap identitas budaya Indonesia yang semakin kuat.

Dalam rangkaian sidang tersebut, Indonesia juga berhasil terpilih sebagai anggota komite MOST (Management of Social Transformations) UNESCO. Program MOST berperan penting dalam mendorong ilmu sosial agar benar-benar menjadi dasar penyusunan kebijakan publik. Duta Besar Mohamad Oemar menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di MOST menunjukkan keseriusan bangsa ini dalam mendorong kebijakan berbasis riset, bukan sekadar intuisi politik. Argumen ini semakin relevan mengingat tantangan sosial modern membutuhkan pendekatan yang berbasis data, keilmuan, dan kolaborasi lintas sektor.

Di bidang kelautan, Indonesia kembali menegaskan posisi strategisnya sebagai negara maritim dengan terpilih sebagai anggota Dewan Eksekutif Komite Oseanografi Antarpemerintah (IOC) UNESCO. Keberhasilan ini memperkuat legitimasi Indonesia dalam diskusi global mengenai tata kelola laut, riset oseanografi, hingga pengembangan kebijakan kelautan internasional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, posisi ini bukan hanya prestasi, tetapi juga kewajiban moral untuk berkontribusi lebih jauh dalam menjaga kesehatan laut dunia.

Selain itu, Sidang Umum UNESCO juga mengesahkan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari pada 2027 sebagai salah satu perayaan yang diakui UNESCO. Syekh Yusuf tidak hanya dihormati sebagai ulama besar asal Sulawesi Selatan, tetapi juga sebagai tokoh antikolonial dan penghubung peradaban antara Indonesia dan Afrika Selatan. Pengakuan UNESCO ini memperkuat narasi bahwa kontribusi tokoh Indonesia memiliki dampak historis dan transnasional yang penting bagi dunia.

Tidak kalah signifikan, atas usulan Indonesia, UNESCO juga menyetujui resolusi untuk mengakui Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari besar di lingkungan UNESCO. Dengan adanya resolusi ini, UNESCO resmi tidak mengadakan pertemuan pada dua hari raya tersebut. Ini adalah bentuk representasi inklusivitas dan keberagaman global, sekaligus menunjukkan bagaimana diplomasi Indonesia mampu membawa nilai-nilai budaya dan religius ke dalam kebijakan internasional tanpa menimbulkan perpecahan—sebuah prestasi diplomasi yang tidak sederhana.

Jika disatukan, kelima capaian ini—penggunaan Bahasa Indonesia, kursi komite MOST, pengakuan Syekh Yusuf, pengakuan Idul Fitri dan Idul Adha, serta keanggotaan IOC—mencerminkan wajah kontribusi Indonesia di UNESCO yang makin strategis dan berdampak. Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta yang mengikuti arus, tetapi tampil sebagai negara yang mampu:

  • membangun narasi,
  • mendorong norma global baru,
  • serta menghubungkan kepentingan nasional dengan kepentingan internasional.

Dengan capaian ini, Indonesia menunjukkan bahwa diplomasi budaya, pendidikan, dan sains bukan hanya simbol prestise, tetapi instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tatanan global.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×