Suara desisan uap panas bumi menjadi latar alami yang akrab bagi siapa pun yang berkunjung ke kawasan pembangkit listrik panas bumi Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, di perbatasan Garut–Bandung. Dari balik pipa-pipa besar, uap bertekanan tinggi itulah yang selama puluhan tahun menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik sejak 1983.
Namun sejak 2023, panas bumi itu tak hanya menghidupkan lampu rumah-rumah di Jawa Barat—ia juga menghidupkan harapan baru bagi para pelaku bisnis kopi lokal. Energi panas yang dulu hanya dianggap buangan kini diubah menjadi tenaga bersih untuk mengeringkan ceri kopi melalui teknologi rumah pengeringan geothermal. Inovasi ini terdengar sederhana, tapi dampaknya besar: efisiensi lebih tinggi, ramah lingkungan, dan membuka peluang ekonomi baru.
Di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Bandung, PT PGE membangun rumah pengeringan itu sebagai bagian dari program CSR. Bentuk bangunannya memang sederhana—tanpa dinding, rangka baja ringan, plastik bening sebagai penutup—tapi dilengkapi teknologi pengatur suhu yang bisa diatur antara 33–50 derajat celcius. Dengan kemampuan beroperasi 24 jam, tempat ini mampu mengeringkan hingga 6 ton ceri kopi, tiga kali lebih cepat dari penjemuran tradisional yang mengandalkan panas matahari dan cuaca yang tidak menentu.
Bagi Moh Ramdan Reza—atau Deden—pengusaha kopi berusia 34 tahun, inovasi ini bagaikan “game changer”. Selama hampir satu dekade sejak memulai usaha pada 2015, ia selalu bergantung pada cuaca. Saat musim panen tiba, ia harus menyiapkan tenaga ekstra, lahan luas untuk menjemur kopi, dan tentu saja biaya operasional yang tinggi. Satu batch pengeringan natural bisa memakan waktu hingga 30 hari, bahkan 40 hari jika hujan terus turun
Dengan geothermal dryer, semua itu berubah. Waktu pengeringan kopi natural kini hanya sekitar 7–10 hari. Perhitungan kasarnya sederhana tapi signifikan: biaya pekerja selama 30 hari yang bisa mencapai Rp3 juta kini dapat ditekan drastis. Penghematan inilah yang memungkinkan pelaku usaha membeli ceri kopi dari petani dengan harga lebih tinggi, dari biasanya Rp16 ribu menjadi Rp17–18 ribu per kilogram.
Ini bukan sekadar bisnis, melainkan model kewirausahaan sosial yang menurut Deden harus menguntungkan semua pihak—bukan hanya produsen, tetapi juga para petani di hulu. Ia ingin memutus pola lama di mana petani sering hanya menjadi penonton, bukan pemain utama dalam rantai nilai kopi.
Deden bukan satu-satunya yang merasakan manfaat teknologi ini. Aki Undang, pemilik Akkar (Asli Kopi Kamojang Arabika) berusia 72 tahun, juga mengandalkan rumah pengering geothermal untuk mempercepat proses produksi. Demikian pula Ahmad Nur Fathurodin dari Garut, yang mengembangkan merek Penyoeka Kopi dan bahkan telah menembus pasar luar negeri seperti Korea Selatan, dengan rencana ekspansi ke Taiwan dan Australia.
Menurut Ahmad, geothermal dry house ini bukan hanya mempermudah proses kerja, tetapi juga menciptakan “cerita” yang kuat untuk produknya. Dan dalam dunia kopi, cerita adalah bagian penting dari pengalaman menikmati secangkir kopi. Fakta bahwa kopi Kamojang dikeringkan menggunakan energi panas bumi—dan diklaim satu-satunya di dunia—menjadi nilai jual yang unik dan membedakan mereka dari kompetitor.
Dinas Pertanian Garut pun mendukung inovasi ini karena terbukti menjaga kualitas kopi, mempercepat suplai saat permintaan melonjak, dan mencegah biji kopi terserang jamur akibat penyimpanan terlalu lama.
Inovasi ini tak hanya diakui lokal, tetapi juga internasional. Teknologi pengeringan kopi berbasis panas bumi PGE meraih penghargaan ASEAN Renewable Energy Project Awards 2024 di Laos untuk kategori off-grid thermal. Bahkan inovasi ini telah mendapatkan Sertifikat Paten Sederhana dari Kemenkumham sebagai bukti bahwa Indonesia menjadi pionir dalam teknologi unik ini.
Dampaknya kini makin meluas: kopi hasil pengeringan geothermal sudah menembus pasar global seperti Jerman dan Jepang pada 2025, dan peluang ekspor ke Arab Saudi, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab sudah terbuka lebar. Potensi ini membuat kopi Kamojang bukan hanya simbol inovasi energi bersih, tetapi juga wajah baru ekonomi sirkular yang memberikan manfaat berlapis—bagi petani, pelaku usaha, negara, hingga lingkungan.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara teknologi energi bersih dan industri kopi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren. Ia adalah strategi masa depan yang mengubah tantangan menjadi peluang. Dan Kamojang kini menjadi contoh bahwa inovasi lokal bisa berdampak global—dengan cerita yang tak kalah menarik dari aroma kopi itu sendiri.



