Singkong dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas ini memiliki potensi besar—baik dari sisi ketersediaan bahan baku maupun inovasi produk—yang jika dikembangkan secara serius dapat menjadi ikon baru dalam industri pangan kreatif Indonesia. Pemerintah menilai sektor UMKM berbasis pangan lokal ini berpeluang besar masuk pasar ekspor karena memiliki karakteristik unik, bahan baku berkelanjutan, dan sedang diminati konsumen global.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah memaparkan kinerja Export Center Surabaya, yang menunjukkan pencapaian memuaskan. Hingga saat ini, layanan konsultasi ekspor mencapai 1.612 kali dari target 1.650, atau 97,70%, dengan rata-rata 146 sesi per bulan. Capaian ini menegaskan bahwa Export Center Surabaya semakin menjadi pusat pendampingan yang aktif, terukur, dan dibutuhkan oleh pelaku usaha yang ingin menembus pasar global.
Angka tersebut juga menunjukkan dua hal penting: tingginya kepercayaan UMKM terhadap fasilitas pemerintah, dan semakin kuatnya ekosistem ekspor yang dibangun melalui konsultasi, pelatihan, hingga pendampingan produk. Jika sinergi ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin pelaku usaha kecil Indonesia dapat lebih cepat masuk ke rantai pasok global.
Dalam kunjungan tersebut, Wamendag turut didampingi Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor, Bayu Wicaksono Putro, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat strategi ekspor berbasis UMKM.



