Pembelajaran Mendadak Super Interaktif Berkat Super Aplikasi Rumah Pendidikan

Jakarta, Kemendikdasmen — Suasana berbeda terasa di SD Negeri Pejaten Timur 01 Jakarta ketika 30 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Jakarta Selatan tiba untuk mengikuti Program SAPA Sekolah. Kepala sekolah, Tanti Rahayu, menyambut mereka sambil menegaskan bagaimana super aplikasi Rumah Pendidikan telah mengubah cara belajar-mengajar di sekolahnya.

“Lewat SAPA Sekolah yang diinisiasi Pusdatin, kami bisa melihat langsung bagaimana kelas konvensional berevolusi menjadi ruang belajar digital yang lebih hidup, kolaboratif, dan menyenangkan,” ujarnya, Senin (25/11).

Tanti menyampaikan apresiasi kepada Kemendikdasmen karena sekolahnya dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program. Dengan 1.022 murid serta 51 guru dan tenaga kependidikan, digitalisasi menurutnya bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan agar pembelajaran tetap relevan dan menarik.

Ia menambahkan, saat ini sekolah sudah memiliki dua unit Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP): satu dari pemerintah dan satu lagi hasil pengadaan melalui dana BOS 2024. Investasi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi jembatan untuk meningkatkan interaksi dan kreativitas murid.

Pada kesempatan yang sama, Kasi SD Sudin Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Selatan, Budi Purwanti, menekankan bahwa pelaksanaan SAPA Sekolah bertepatan dengan momentum Hari Guru Nasional 2025.

“Semangat HGN tahun ini adalah berbagi dan berkolaborasi. Kami berharap para peserta dapat saling bertukar praktik baik, khususnya dalam pemanfaatan IFP untuk mendukung pembelajaran lebih interaktif di kelas,” ujar Budi saat membuka kegiatan.

Sementara itu, perwakilan Pusdatin, Ketua Kelompok Kerja Evaluasi dan Pemantauan, Saleh Sarifudin, menjelaskan bahwa program SAPA Sekolah merupakan bentuk nyata implementasi Inpres Nomor 7 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 79 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan dan digitalisasi pendidikan.

Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar menyediakan perangkat, tetapi membangun ekosistem belajar yang terintegrasi dan mudah diakses guru maupun murid. “Program SAPA Pusdatin berjalan sejak 19 hingga 25 November, menyasar 65 sekolah di lima wilayah Jakarta sebagai pilot project,” jelas Saleh.

Setelah sesi pembukaan, peserta mendapatkan bimbingan teknis dari Pusdatin dan mitra Kemendikdasmen, Pesona Edu. Materi yang diberikan cukup komprehensif: mulai pengenalan ekosistem Rumah Pendidikan, pemanfaatan Ruang GTK, inspirasi pembelajaran digital, penggunaan fitur Ruang Murid, hingga simulasi mengajar menggunakan perangkat digital di kelas.

Para guru juga mengikuti pre-test, post-test, dan evaluasi untuk memetakan pemahaman serta menilai dampak awal penggunaan platform digital terhadap cara mereka merancang pembelajaran. Hal ini penting karena keberhasilan digitalisasi tidak hanya diukur dari teknologi yang tersedia, tetapi dari bagaimana guru memanfaatkannya untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, personal, dan bermakna.

Dengan rangkaian kegiatan tersebut, program SAPA Sekolah tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga menumbuhkan budaya belajar baru yang lebih adaptif—sebuah langkah strategis yang diyakini dapat membuka jalan menuju transformasi pendidikan yang lebih inklusif dan modern.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×