Irama musik yang meriah, gelak tawa penonton, dan kisah sarat pesan moral menghidupkan malam di Lapangan Sepak Bola Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara. Di bawah langit yang penuh gemerlap lampu panggung, warga dari berbagai penjuru desa berdatangan untuk menyaksikan Pertunjukan Rakyat (Pertunra)—sebuah medium klasik yang tak pernah kehilangan pesonanya dalam menyampaikan pesan pemerintah kepada masyarakat.
Pertunra sejak dulu dikenal sebagai jembatan komunikasi yang efektif, terutama di pedesaan, karena mampu membungkus pesan-pesan penting dalam balutan cerita yang menghibur. Melalui humor, dialog spontan, serta interaksi langsung, isu-isu rumit seperti literasi digital, perlindungan anak, maupun bahaya judi online bisa disampaikan dengan cara yang jauh lebih mudah dipahami. Ini menunjukkan satu argumen penting: pendekatan budaya sering kali lebih berhasil daripada sosialisasi formal, karena menyentuh emosi dan kedekatan sosial masyarakat.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memanfaatkan momentum ini untuk menyosialisasikan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak—dikenal sebagai PP Tunas. Mengangkat tema “PP Tunas Wujud Semangat Hari Pahlawan di Era Digital,” kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid.
Dalam sambutannya, Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa orang tua memegang peran utama dalam menjaga anak-anak di ruang digital. Ia menyoroti berbagai ancaman dunia maya seperti pornografi, judi online, dan perundungan siber yang dapat menghambat tumbuh kembang generasi muda. “Orang tua harus ikut membantu pemerintah melindungi anak-anak dari penggunaan internet, terutama media sosial,” ujarnya di hadapan ribuan warga yang memadati arena Pertunra.
Ia kemudian menjelaskan bahwa PP Tunas dirancang untuk memperkuat perlindungan anak dengan mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) menyediakan fitur penyaringan konten dan mekanisme pelaporan yang mudah. “Kalau dulu pahlawan berjuang dengan bambu runcing, sekarang perjuangan kita adalah menjaga anak-anak dari bahaya digital,” ungkap Menkomdigi, disambut tepuk tangan meriah. Pesan ini sekaligus menggarisbawahi argumen utama kegiatan tersebut: literasi digital bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab moral setiap keluarga.
Menurutnya, internet idealnya menjadi tempat anak-anak belajar, berkreasi, dan bahkan membuka peluang ekonomi, seperti berdagang secara daring. Namun manfaat itu hanya bisa diraih jika masyarakat mampu memilah informasi, menghindari hoaks, dan menjauhi praktik judi online yang semakin marak. “Semangat kepahlawanan zaman sekarang adalah menjaga keluarga kita dari ancaman digital,” tambahnya.
Wakil Bupati Serdang Bedagai, Adlin Tambunan, juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya Pertunra di wilayahnya. Ia menilai metode ini ampuh meningkatkan literasi digital masyarakat akar rumput. “Media sosial harus digunakan secara positif, bukan untuk menyebarkan kebencian atau hoaks. Termasuk menjauhi judi online,” tegasnya.
Kemeriahan malam itu semakin pecah dengan penampilan artis jebolan ajang pencarian bakat Rizki Ridho, tarian Serampang Dua Belas, hingga pembagian hadiah undian yang membuat penonton semakin antusias.
Hadir pula jajaran pejabat Kemkomdigi, mulai dari Dirjen Komunikasi Publik dan Media Fifi Aleyda Yahya, Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah, hingga Sekretaris Ditjen KPM Very Radian Wicaksono.
Pertunjukan rakyat malam itu membuktikan bahwa seni tradisi tetap relevan di era digital. Dengan menggabungkan sentuhan budaya dan pesan teknologi, pemerintah dapat menjangkau masyarakat hingga ke wilayah paling dasar. Ini juga memperkuat argumen bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan sekadar regulasi, melainkan gerakan bersama untuk membangun masa depan generasi yang lebih aman dan cerdas.



