Dedikasi para penerima Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional 2025 menjadi gambaran nyata bagaimana komitmen terhadap pendidikan anak usia dini terus tumbuh di seluruh pelosok negeri. Mereka hadir bukan sekadar sebagai perwakilan daerah, tetapi sebagai motor penggerak yang membawa gagasan segar, strategi inovatif, dan kepedulian mendalam untuk menyukseskan kebijakan nasional Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah yang saat ini tengah digenjot Kemendikdasmen.
Penghargaan yang diberikan negara kepada 27 Bunda PAUD Provinsi, 185 Bunda PAUD Kabupaten/Kota, serta 178 Bunda PAUD Kecamatan dan Desa bukan hanya seremoni. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa keberhasilan PAUD nasional bertumpu pada kerja nyata para perempuan penggerak di akar rumput—mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan tantangan, mulai dari akses, kualitas layanan, hingga pemahaman masyarakat terhadap pentingnya PAUD.
Salah satu penerima apresiasi, Idawati Waromi, Bunda PAUD dari Jayawijaya, Papua Pegunungan, menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas dan tenaga pendidik tak menyurutkan semangat mereka. “Kami membentuk jejaring antara posyandu, gereja, dan PKK untuk mengedukasi orang tua. Cara ini sangat efektif meningkatkan jumlah anak yang mengikuti PAUD, terutama di distrik terpencil,” ujarnya.
Idawati juga mendorong pembelajaran berbasis alam dan budaya lokal—strategi yang tidak hanya membuat anak lebih aktif dan betah belajar, tetapi juga menjaga warisan budaya daerah. Upayanya memfasilitasi guru PAUD melanjutkan pendidikan formal pun menunjukkan bahwa kualitas layanan tak akan mungkin meningkat tanpa peningkatan kapasitas pendidiknya.
Dari Jakarta Pusat, Witri Yenny Arifin, Bunda PAUD Wiyata Darma Pratama, membawa semangat serupa melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang mempermudah guru melanjutkan studi ke jenjang S1. Inovasi ini membuktikan bahwa peningkatan mutu pendidik tak selalu harus mengorbankan waktu mengajar. “Kami ingin guru tetap bisa mengajar sambil kuliah. Itu kuncinya,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua sebagai mitra utama sekolah. Dengan dukungan keluarga, kata Witri, transisi anak menuju pendidikan prasekolah menjadi lebih menyenangkan dan penuh kepercayaan diri.
Sementara itu, Yani Fitriyati dari Desa Inovatif 1, Sarolangun, Jambi, menguatkan pendekatan berbasis komunitas. Sosialisasi langsung ke masyarakat dan pelibatan tokoh desa menjadi cara yang efektif meningkatkan partisipasi orang tua. Yani juga fokus pada peningkatan mutu guru melalui pelatihan dasar dan pendampingan berkelanjutan.
Rangkaian pengalaman para Bunda PAUD ini menunjukkan bahwa keberhasilan program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah sangat ditentukan oleh kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para pendidik di lapangan. Mereka membuktikan bahwa ketika komunikasi terbangun, strategi dijalankan dengan empati, dan peningkatan kualitas guru menjadi prioritas, pendidikan anak usia dini tidak hanya berjalan—tetapi berkembang, menguat, dan memberikan dampak nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia.



