Suara Generasi Muda Surabaya Gemparkan Publik

Ruang digital hari ini bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengikutinya. Informasi datang tanpa henti, membanjiri layar dan pikiran, dan tak jarang menyimpan risiko di balik kemudahannya.

Di Surabaya, sebuah forum literasi digital mempertemukan pemerintah, akademisi, kreator, dan mahasiswa—semua duduk dalam satu ruangan untuk membahas pertanyaan penting: bagaimana memastikan generasi muda tetap aman, cerdas, dan produktif di tengah derasnya arus digital?

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Ditjen KPM Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, membuka sesi diskusi dengan gaya lugas namun penuh optimisme. Ia mengingatkan bahwa literasi digital kini bukan lagi aktivitas tambahan, tetapi kebutuhan mendasar untuk menjaga kesehatan informasi masyarakat.

“Anak muda berada di garis depan revolusi digital. Mereka harus mampu mengenali ancaman, memverifikasi informasi, dan menggunakan media sosial dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya saat membuka Indonesia.go.id (IGID) Goes To Campus bertema Your Story, Our Nation di Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Argumen tambahan: Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur internet, tetapi juga wajib memastikan warganya tidak tersesat dalam ruang digital yang rawan misinformasi, manipulasi opini, hingga kejahatan siber.

Para mahasiswa yang hadir mengangguk. Sebagian mencatat, sebagian lainnya terdiam merenung. Apa yang disampaikan Dirjen KPM sebenarnya adalah realitas yang mereka hadapi setiap hari.

Dari kebocoran data pribadi, perundungan daring, hingga hoaks yang menyebar dalam hitungan detik, literasi digital menjadi tameng utama untuk bertahan di dunia yang serba cepat ini.


Penulis buku Fenti Effendi, salah satu narasumber, melanjutkan pembicaraan dengan nada reflektif. Ia menggambarkan bagaimana manusia modern sering terjebak pada pola konsumsi informasi yang dangkal.
“Kita terlalu sering berhenti di judul. Terlalu cepat bereaksi, sebelum sempat berpikir,” katanya, menyindir kultur digital yang serba instan.

Ia bahkan mengisahkan pembaca muda yang lebih mempercayai konten viral ketimbang artikel jurnalistik yang telah diverifikasi. “Ini bukan sepenuhnya salah mereka. Algoritma digital hari ini memang didesain untuk memikat perhatian, bukan untuk mendidik,” tambahnya.
Argumen ini menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi juga soal memahami bagaimana teknologi mengatur cara kita berpikir.


Dari sisi akademik, Nur’annafi Farni S, dosen Unitomo, memberikan perspektif yang lebih optimistis. Digitalisasi, katanya, bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang besar bagi mahasiswa untuk memperluas pengetahuan, membangun portofolio, serta memulai usaha sejak dini.
“Kuncinya adalah kemampuan memilah. Kita perlu mengajarkan mahasiswa berpikir kritis, memahami konteks, dan memiliki etika digital,” tegasnya.

Argumennya jelas: generasi muda akan mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal hanya jika mereka mampu membedakan informasi bermutu dan konten yang menyesatkan.


Suasana forum menjadi lebih hangat ketika konten kreator muda Hari Obbie naik ke panggung. Ia bercerita tentang perjalanan membuat video, menghadapi komentar pedas, dan belajar dari kesalahan.
“Dunia digital itu keras, tapi peluangnya besar. Yang penting punya prinsip dan niat baik,” katanya sambil tersenyum.

Ia menegaskan bahwa konten edukatif tidak harus rumit untuk berdampak besar—yang terpenting adalah kreativitas dan komitmen.

Para mahasiswa langsung terhubung dengan pengalamannya. Mereka hidup di ruang digital, dan banyak dari mereka ingin meniti jalan sebagai kreator.


Beberapa testimoni mahasiswa kemudian menguatkan pesan forum tersebut.

Wira Guna Prayoga mengatakan bahwa kegiatan itu membuka matanya soal risiko digital.
“Dunia digital memang seru, tapi juga banyak jebakannya. Saya jadi lebih hati-hati,” ujarnya.

Sementara Joki Boy Tersiano mengungkapkan bahwa program seperti ini mengubah cara pandang mereka terhadap teknologi.
“Kami jadi lebih semangat memanfaatkan internet untuk hal produktif. Ternyata potensi digital sangat luas,” katanya.

Argumen yang muncul jelas: tanpa pendampingan dan pemahaman yang tepat, generasi muda bisa kehilangan kesempatan emas untuk berkembang di ranah digital.


Meski berlangsung hanya sehari, forum tersebut meninggalkan kesan mendalam. Mahasiswa menyadari bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan ruang hidup baru yang membutuhkan pemahaman mendalam.

Pertemuan itu menjadi titik temu antara idealisme anak muda dan kebutuhan masyarakat akan literasi digital yang kuat. Sekaligus menegaskan bahwa isu ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja—dibutuhkan kolaborasi pemerintah, kampus, kreator, dan komunitas.

Di akhir acara, harapan yang sama terdengar dari banyak peserta: program seperti ini harus terus dilanjutkan. Tidak hanya di Surabaya, tetapi di kampus-kampus di seluruh Indonesia.

Dan dari ruangan sederhana di Surabaya itulah, suara generasi muda kembali terdengar—suara yang ingin menjadi pengguna digital yang lebih bijak, lebih berdaya, dan tetap manusiawi di tengah derasnya arus teknologi.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×