Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rasa syukur dan bangganya melihat anak-anak dari keluarga miskin ekstrem kini bisa bersekolah gratis, berasrama, dan mendapat makan tanpa biaya sepeser pun. Ia menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat memang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi — agar kemiskinan tidak lagi menjadi takdir yang diwariskan.
“Anak orang miskin atau cucu orang miskin tidak harus menjadi miskin. Kita harus berani mengubah, berani memotong rantai kemiskinan,” tegas Presiden Prabowo, penuh keyakinan.
🌾 Pendidikan sebagai Jalan Pemutus Kemiskinan
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Presiden Prabowo mengumumkan capaian luar biasa: 166 Sekolah Rakyat telah berdiri, melampaui target awal 100 sekolah yang ditetapkan untuk pertengahan tahun depan.
Sekolah-sekolah ini mencakup jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK, dan telah menampung 15.945 siswa dari keluarga miskin ekstrem.
“Anak-anak ini berasal dari desil 1 dan 2 — lapisan masyarakat termiskin. Sebelumnya banyak yang tidak bersekolah, ada yang jadi pemulung, ada yang hidup di jalanan. Kini mereka bisa belajar dengan layak,” kata Prabowo.
Presiden menegaskan, Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan gerakan moral dan sosial untuk mengangkat martabat manusia.
Ia percaya, pendidikan yang setara dan berkualitas adalah kunci untuk memutus mata rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu banyak keluarga di Indonesia.
📚 Dari Mimpi ke Kenyataan
Resmi diluncurkan pada 14 Juli 2025, Sekolah Rakyat kini menjadi simbol pemerataan pendidikan di era kepemimpinan Prabowo–Gibran.
Program ini memberikan akses pendidikan gratis berasrama, lengkap dengan makan, buku, dan fasilitas kesehatan — semua ditanggung oleh negara.
Namun, di balik itu tersimpan filosofi yang kuat: “Jika tidak bisa membantu banyak orang, bantulah satu orang. Dan jika tak mampu membantu, jangan mempersulit.”
“We must do what we can do. And we can do, if we want to,” ujar Presiden, menegaskan prinsip empati sosial yang sederhana tapi bermakna.
Dengan target 500 Sekolah Rakyat hingga akhir masa kepemimpinannya, Prabowo optimistis akan menjangkau hingga 500 ribu keluarga miskin.
Setiap sekolah dirancang untuk menampung sekitar seribu siswa lintas jenjang, menciptakan lingkungan belajar terpadu yang mendidik sekaligus membentuk karakter.
🌍 Sekolah yang Menghidupkan Harapan
Salah satu bukti keberhasilan program ini dapat ditemukan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Sulawesi Selatan.
Sekolah ini menjadi oasis pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya kehilangan harapan.
Plh. Kepala Sekolah, Azharika Isnarani, mengaku program ini telah membawa keajaiban bagi banyak keluarga.
“Sekolah Rakyat membuat orang tua tidak lagi cemas soal biaya sekolah, buku, atau kebutuhan asrama. Semua ditanggung negara,” ujarnya.
Sejak dibuka, SRMP 23 Makassar menampung 137 siswa angkatan pertama, seluruhnya dari keluarga miskin.
Fasilitas belajar dan asrama terus ditingkatkan: ruang kelas nyaman, perpustakaan lengkap, hingga layanan kesehatan tersedia.
“Guru-guru kami juga rutin dilatih agar kualitas pengajaran terus meningkat. Jadi bukan hanya gratis, tapi juga benar-benar bermutu,” tambah Azharika.
Ia berharap program ini mendapat payung hukum yang kuat agar bisa berlanjut meskipun terjadi pergantian pemerintahan. Sebab, menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan — tapi investasi sosial untuk masa depan bangsa.
💫 Asa yang Kembali Menyala
Di tengah hiruk pikuk pagi Makassar, seorang gadis bernama Nurkhalifami (15) berdiri dengan senyum malu-malu di halaman sekolahnya. Ia adalah salah satu dari ratusan anak yang kini mendapat kesempatan kedua untuk bermimpi.
“Saya sempat putus sekolah dua tahun. Waktu itu bantu ibu jualan gorengan karena tidak ada biaya,” ceritanya lirih.
Dulu, Nur mengira cita-citanya untuk menjadi dokter telah sirna. Namun, harapan itu kembali ketika ibunya mendengar tentang Program Sekolah Rakyat melalui jaringan Program Keluarga Harapan (PKH). Kini, Nur kembali mengenakan seragam biru dengan penuh kebanggaan.
“Saya senang sekali bisa sekolah lagi. Sekarang semua fasilitasnya lengkap, makanannya enak, dan gurunya baik-baik,” ujarnya sambil tersenyum.
Setiap hari, Nur bangun pukul empat pagi, mengikuti rutinitas disiplin di asrama — salat, sarapan, belajar. Ia belajar bukan hanya tentang pelajaran, tapi juga tentang tanggung jawab dan kemandirian.
“Kadang kangen rumah, tapi saya banyak teman baru. Kami saling bantu meski beda agama. Rasanya seperti keluarga,” katanya lembut.



