Indonesia Siap Buktikan Kualitas Dunia di Sektor Penerbangan

Indonesia kembali menunjukkan kesungguhannya di mata dunia dalam menjaga kualitas sumber daya manusia di sektor penerbangan. Melalui kegiatan ICAO Trainair Plus Membership On-Site Re-Assessment 2025, negeri ini menegaskan komitmennya untuk terus berdiri sejajar dengan standar internasional dalam pelatihan penerbangan.

Kegiatan re-assessment ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi langkah strategis untuk menjaga kepercayaan global terhadap reputasi Indonesia sebagai salah satu negara yang mampu mencetak tenaga penerbangan profesional berkelas dunia.

Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU), M. Abrar Tuntalanai, menjelaskan bahwa pelaksanaan re-assessment ini mencerminkan konsistensi Indonesia dalam mempertahankan mutu dan kredibilitas pelatihan penerbangan yang telah diakui secara internasional.

“Kami berkomitmen untuk terus menjaga standar pelatihan sesuai pedoman ICAO, sehingga PPSDMPU dapat terus berkontribusi dalam pengembangan kapasitas penerbangan global,” ujar Abrar dengan penuh optimisme.

Komitmen ini tidak hanya berbicara tentang kepatuhan administratif, tetapi juga soal kepercayaan—bahwa dunia mempercayai Indonesia sebagai mitra dalam menjaga keselamatan dan profesionalisme penerbangan global.

Proses re-assessment kali ini dipimpin oleh Mr. Hervé Touron, Head of Training Assessments and Consultancy (TAC) Unit ICAO.
Penilaian dilakukan di dua lembaga penting:

  • PPSDMPU, yang berstatus ICAO Trainair Plus Platinum / Training Centre of Excellence (TCE), dan
  • Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPIC), yang menjadi Associate Member dalam jaringan ICAO Trainair Plus.

Selama asesmen berlangsung, tim ICAO melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua aspek pelatihan: mulai dari pengecekan dokumen Training and Procedures Manual (TPM), audit sistem pelatihan melalui Trainair Plus Electronic Management System (TPEMS), hingga wawancara langsung dengan instruktur dan manajemen.

Tak hanya itu, tim juga memverifikasi Corrective Action Plan (CAP) dari asesmen sebelumnya untuk memastikan setiap rekomendasi sudah benar-benar ditindaklanjuti secara berkelanjutan — sebuah langkah yang menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menerima evaluasi, tetapi menjadikannya bahan untuk tumbuh dan berbenah.

Sebelum kedatangan tim ICAO, PPSDMPU dan PPIC telah menempuh serangkaian persiapan serius: memperbarui dokumen mutu, melakukan evaluasi internal, meningkatkan kesiapan fasilitas pelatihan, hingga menjalin koordinasi teknis yang intens dengan pihak ICAO.

Langkah-langkah ini membuktikan bahwa Indonesia tak sekadar ingin lulus asesmen, tetapi benar-benar berupaya menjaga reputasi sebagai pusat unggulan pelatihan penerbangan dunia.
Dalam konteks global, hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi bagian aktif dalam rantai industri penerbangan internasional, bukan sekadar peserta pasif.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP), Capt. Wisnu Handoko, menegaskan bahwa seluruh lembaga pendidikan di bawah BPSDMP berpegang teguh pada nilai PROPRESTASI, terutama prinsip Standard of Globalization.

“Standar globalisasi ini bukan hanya berlaku di dunia penerbangan yang mengikuti regulasi ICAO, tetapi juga di sektor maritim sesuai IMO dan STCW, serta di sektor darat dan perkeretaapian. Kami berkomitmen menjaga mutu dan relevansi pelatihan di seluruh sektor transportasi,” tegas Capt. Wisnu.

Dengan pendekatan lintas matra ini, BPSDMP memperlihatkan visi holistik bahwa pembangunan SDM transportasi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua sektor — udara, laut, dan darat — harus bergerak seirama untuk mewujudkan transportasi nasional yang aman, efisien, dan kompetitif di tingkat global.

Melalui kegiatan ICAO Trainair Plus Membership On-Site Re-Assessment 2025, Indonesia kembali memperkuat eksistensinya di panggung penerbangan dunia.
Upaya ini bukan sekadar menjaga status keanggotaan, tetapi juga mempertegas kontribusi Indonesia dalam mendukung keselamatan, efisiensi, dan profesionalisme SDM penerbangan global.

Lebih jauh, konsistensi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin sekadar mengikuti standar dunia — tetapi ikut menciptakannya.
Ketika kualitas SDM penerbangan dijaga dengan baik, dampaknya meluas: kepercayaan investor meningkat, kerja sama internasional menguat, dan masyarakat pun merasakan hasilnya lewat transportasi udara yang semakin aman.

Langkah seperti ini penting karena di era globalisasi, reputasi suatu negara dalam sektor penerbangan bukan hanya ditentukan oleh teknologi atau infrastruktur, tetapi oleh kualitas manusianya.
Negara yang mampu menjamin standar pelatihan berkelas dunia akan selalu menjadi mitra strategis dalam jaringan aviasi global.

Melalui re-assessment ini, Indonesia membuktikan satu hal penting:
bahwa profesionalisme dan kredibilitas bukan dibangun dalam sehari, tetapi melalui komitmen jangka panjang yang konsisten terhadap mutu, disiplin, dan integritas.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×