Kejuaraan Dunia Vovinam ke-8 yang digelar di Kabupaten Buleleng, Bali, resmi berakhir dengan penuh sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta maupun penonton. Ajang bergengsi ini bukan hanya menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menyelenggarakan event olahraga internasional dengan standar tinggi, tetapi juga mempertegas posisi Buleleng sebagai destinasi potensial untuk sport tourism dunia.
Dari pembukaan yang megah hingga penutupan yang penuh semangat, seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan tertib. Ketua Panitia sekaligus Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam menyukseskan acara tersebut — mulai dari TNI, Polri, Pemkab, desa adat, hingga para relawan dan masyarakat lokal. “Ini hari terakhir dan seluruh rangkaian berjalan sukses. Terima kasih untuk semua pihak yang telah bekerja keras mewujudkan ajang ini,” ujarnya.
Keberhasilan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Vovinam ini menjadi tonggak penting bagi Buleleng. Supriatna menegaskan, keberhasilan tersebut memberi keyakinan baru bahwa Buleleng memiliki kapasitas dan infrastruktur untuk menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional lainnya. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah kini tengah menyiapkan pembangunan sport center bertaraf internasional di kawasan Lumbanan. Lahan seluas 5,7 hektar telah dihibahkan oleh Pemprov Bali dan tengah menunggu proses legal formal agar dapat segera dieksekusi. “Sport center ini nantinya akan menjadi pusat pengembangan olahraga modern sekaligus simbol kebangkitan Buleleng di kancah olahraga dunia,” tambahnya.
Pujian tak hanya datang dari dalam negeri. Presiden Federasi Vovinam ASEAN, Ou Ratana, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan yang dinilai sangat profesional, sekaligus mengagumi keramahan masyarakat Indonesia. Menurutnya, seluruh delegasi merasa aman, nyaman, dan terlayani dengan baik selama berada di Bali. Senada dengannya, Executive Vice President World Vovinam Federation, Florin Macovei, juga mengaku terkesan dengan atmosfer kompetisi yang hangat namun kompetitif, serta pembukaan acara yang spektakuler. Ia bahkan menyebut pengalamannya di Lovina membuatnya ingin kembali lagi sebagai wisatawan bersama keluarga.
Prestasi Indonesia di ajang ini pun menunjukkan peningkatan signifikan. Tim nasional berhasil membawa pulang 5 medali perak dan 13 medali perunggu — lonjakan tajam dibandingkan capaian di Kejuaraan Dunia sebelumnya di Vietnam yang hanya menghasilkan satu medali perak. Pelatih tim Indonesia, Ni Luh Kadek Apriyanti, mengaku bangga dengan kemajuan para atlet yang kini tampil lebih percaya diri dan kompetitif. “Pesaing kita memang berat, terutama dari Vietnam dan Aljazair. Tapi anak-anak sudah menunjukkan peningkatan luar biasa. Ke depan, kami akan matangkan lagi teknik dan basic mereka agar lebih siap di kejuaraan ASEAN tahun depan,” ungkapnya optimistis.
Lebih dari sekadar ajang olahraga, Kejuaraan Dunia Vovinam di Buleleng menjadi simbol keberhasilan diplomasi budaya dan sport tourism Indonesia. Event ini membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi jembatan persahabatan antarbangsa, sekaligus mengangkat citra daerah sebagai tuan rumah yang profesional, ramah, dan berdaya saing global. Dengan semangat yang sama, Buleleng kini menatap masa depan — bukan hanya sebagai tuan rumah kejuaraan, tetapi sebagai pusat sport tourism baru yang menggabungkan keindahan alam, budaya lokal, dan prestasi dunia.



