Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima kunjungan dari Prodi PPKN Institusi Pendidikan Indonesia (IPI) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP se-Kabupaten Garut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (22/5/2024).
Kepala Satuan Tugas Jaringan Pendidikan KPK, Bariroh Barir, menegaskan pentingnya menanamkan pendidikan antikorupsi sejak dini dan disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak.
“Untuk jenjang SMP, kita perlu menyasar karakter siswa, menanamkan nilai-nilai baik dalam proses tumbuh kembang mereka. Pendidikan antikorupsi bukan hanya soal pengetahuan tentang korupsi, tetapi juga tentang menginternalisasi nilai-nilai antikorupsi seperti JUMAT BERSEPEDA KK (jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, kerja keras),” jelas Barir dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Rabu (22/5/2024).
Penanaman karakter ini harus dibarengi dengan pengenalan jenis-jenis korupsi dan dampak buruknya terhadap bangsa dan negara, agar siswa memahami bahaya korupsi dan termotivasi untuk melawannya.
“Gunakan media yang menyenangkan dalam pembelajaran antikorupsi untuk meningkatkan semangat dan minat siswa. Misalnya, melalui permainan, simulasi, atau kegiatan kreatif lainnya. Pengenalan korupsi juga bisa dilakukan melalui film atau buku bacaan sambil mengajak siswa berdiskusi,” tambah Barir.
Lebih lanjut, Barir menekankan bahwa pendidikan antikorupsi adalah kunci penting dalam mencegah korupsi di masa depan. Dengan menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini, generasi muda diharapkan bisa membangun bangsa yang lebih bersih dan bermartabat.
“Pendidikan antikorupsi mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi dengan keberlanjutan dan kerja sama semua pihak, budaya antikorupsi akan semakin kuat di masa depan. Di tingkat SMP, yang penting adalah siswa tahu dulu, kemudian bisa, dan akhirnya terbiasa dengan nilai-nilai antikorupsi. Ingat, tidak ada koruptor yang tiba-tiba menjadi koruptor. Semua dibentuk dari kecil oleh orang tua, lingkungan, bahkan sekolah,” ujarnya.
KPK telah mengembangkan berbagai modul pembelajaran antikorupsi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA. Modul-modul tersebut dikemas dengan menarik dan interaktif, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak.
KPK juga mendorong guru-guru untuk mengikuti pelatihan antikorupsi, sehingga mereka bisa menjadi fasilitator yang efektif dalam pendidikan antikorupsi. “Mari biasakan memuji dan menghargai karakter siswa yang baik, bukan hanya mereka yang berprestasi akademik. Dengan begitu, siswa akan terus berperilaku baik dan merasa dihargai, sehingga tercipta budaya positif dan antikorupsi di sekolah,” tutup Barir.
Menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini adalah langkah strategis untuk membangun generasi yang berintegritas. Proses ini memerlukan metode yang kreatif dan menyenangkan agar siswa tertarik dan memahami pentingnya antikorupsi. Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada pengetahuan tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat. Peran guru sangat vital dalam proses ini, sehingga pelatihan bagi guru menjadi esensial. Dengan kolaborasi antara berbagai pihak, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung budaya antikorupsi, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih bersih dan transparan.



