Pemerintah Indonesia berhasil mengembangkan model budidaya tambak udang vaname yang sukses, kini mereka meresmikan model budidaya ikan nila salin. Kedua komoditas ini dijadikan primadona ekspor Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan budidaya ikan di daerah pesisir.
Salah satu ikan yang banyak dipilih oleh para petambak adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Pemerintah terus melakukan penelitian untuk menemukan bibit unggul yang dapat menjamin kelangsungan produksi ikan ini. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan varietas nila salin, yang dinamakan Nila Salina (Saline Tolerance Indonesian Tilapia), pertama kali pada 2013. Varietas ini dapat menoleransi kadar salinitas air hingga di atas 20%, berkat sifat euryhaline yang memungkinkannya hidup di air laut, air payau, maupun air tawar.
Keputusan pemerintah untuk menjadikan nila salin sebagai primadona komoditas ekspor bersama udang vaname sangat tepat. Ini ditandai dengan dioperasikannya model kawasan tambak budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat, oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (8/5/2024). Presiden Jokowi, yang didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono, menyatakan bahwa tambak ikan nila dengan infrastruktur modern ini siap menjadi lokomotif industrialisasi nila salin di Indonesia.
Presiden Jokowi juga menyebutkan bahwa pembangunan model ini adalah langkah tepat untuk menjawab tingginya permintaan ikan nila di pasar domestik dan global. Operasional model ini mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jika produktivitas ikan nila salin berjalan optimal, pemerintah siap merevitalisasi tambak-tambak udang yang tidak terpakai di wilayah Pantura untuk pengembangan budidaya nila salin. Data menunjukkan tambak-tambak udang yang tidak terpakai luasnya mencapai 78 ribu hektare.
“Kita lihat proyek ini dulu, kalau sangat layak, kita akan siapkan melalui APBN 2025 atau 2026. Saya akan sampaikan kepada pemerintah yang baru agar mimpi besar ini bisa direalisasikan,” kata Jokowi.
Menteri KP Trenggono menjelaskan bahwa model kawasan tambak budidaya ikan nila salin dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di lahan seluas 80 hektare di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang. Total produksinya dicanangkan mencapai 7.020 ton per tahun, atau senilai Rp196,5 miliar dengan asumsi harga jual nila salin Rp28 ribu per kilogram.
“Kami targetkan ke depan produksinya 10 ribu ton per tahun, dengan berat per ekor tidak kurang dari 1 kilogram, supaya bisa di-fillet. Tentunya ada industri, makanya tadi kami hadirkan juga pelaku industri,” ujar Trenggono.
Trenggono juga menjelaskan bahwa nila memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar domestik dan global. Data Future Market Insight (2024) memproyeksikan nilai pasar ikan nila dunia pada 2024 sebesar US$14,46 miliar, yang akan meningkat sebesar 59 persen pada 2034 menjadi US$23,02 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) 4,8 persen.
Dari sisi teknis produksi, budidaya nila salin mengedepankan penggunaan teknologi modern, termasuk mesin pakan otomatis, sistem kincir, dan alat pengukur kualitas air berbasis IoT dan tenaga surya. Tambak ini juga dilengkapi instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) sehingga ramah lingkungan. KKP menginvestasikan Rp46,6 miliar untuk membangun BINS.
Trenggono mengatakan bahwa kehadiran BINS juga bisa menjadi solusi bagi tambak-tambak udang yang tidak beroperasi optimal. KKP merencanakan revitalisasi terhadap 78 ribu hektare tambak udang di Pantura Jawa untuk pengembangan budidaya nila salin, karena dari sisi produktivitas, budidaya nila salin jauh lebih produktif dengan hasil 87,75 ton per hektare per tahun dibanding tambak udang tradisional yang hanya menghasilkan 0,6 ton per hektare per tahun.
langkah ini tidak hanya memanfaatkan potensi geografis Indonesia secara maksimal, tetapi juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan memadukan teknologi modern dan infrastruktur yang baik, Indonesia dapat meningkatkan kapasitas ekspor dan memperkuat posisinya di pasar global.



