Sulawesi Selatan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sentra pangan utama nasional dengan kontribusi yang sangat berarti dalam produksi padi dan jagung. Keberadaan Bendungan Pamukkulu yang baru diresmikan diharapkan akan membawa dampak positif terhadap produktivitas pertanian serta ketahanan pangan di daerah ini.
Nama Sulawesi Selatan kini menempati urutan teratas dalam urusan pangan nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, Provinsi Sulawesi Selatan berkontribusi sekitar 10% dari total produksi padi nasional, dengan angka produksi mencapai 5,2 juta ton per tahun. Dengan luas wilayah mencapai 45.764,53 km² yang mencakup 21 kabupaten dan tiga kota, Sulsel juga menyumbang sekitar 12% dari produksi jagung nasional, dengan total produksi jagung sebesar 1,5 juta ton per tahun. Produksi padi besar di Sulsel diperoleh dari 1,2 juta hektare lahan sawah, yang merupakan sekitar 8% dari total luas lahan sawah nasional.
Luas dan kesuburan lahan pertanian ini menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu pilar utama ketahanan pangan Indonesia. Pada tahun 2024, Sulsel diproyeksikan akan terus memperbesar kontribusinya terhadap produksi pangan nasional. Kehadiran Bendungan Pamukkulu diprediksi akan meningkatkan produksi padi dan jagung masing-masing sebesar 5% dan 7%, sehingga semakin memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional.
Bendungan Pamukkulu resmi beroperasi pada Jumat (5/7/2024), setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Dalam peresmian tersebut, Presiden Jokowi menekankan betapa pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan produktivitas pertanian. “Semua negara menghadapi penurunan produktivitas pertanian dan ada risiko kelaparan global. Dengan Bendungan Pamukkulu, kita berupaya mengelola air dengan lebih baik,” ujar Jokowi.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menjelaskan bahwa Bendungan Pamukkulu, yang dibangun sejak 2017 dengan kapasitas tampung hingga 85,42 juta meter kubik, akan memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat Kabupaten Takalar, termasuk penyediaan air baku, potensi listrik, pengurangan banjir, dan irigasi.
Pembangunan bendungan ini menelan biaya Rp1,83 triliun, dikerjakan oleh dua paket kontraktor, yaitu PT Wijaya Karya (Persero)-PT Daya Mulia Turangga (KSO) dan PT Nindya Karya-PT Virama Wilayah V. Bendungan Pamukkulu dirancang untuk memperbaiki suplai air bagi lahan pertanian di Sulsel, yang dikenal dengan hamparan lahan sawah lebih dari 3.000 hektare, serta meningkatkan produktivitas pertanian.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Bob Arthur Lombogia, menambahkan bahwa Bendungan Pamukkulu tidak hanya untuk irigasi seluas 6.430 hektare tetapi juga sebagai penyedia air baku dengan kapasitas 160 liter/detik untuk Kabupaten Takalar, mereduksi risiko banjir seluas 1.337 hektare, memiliki potensi pembangkit listrik tenaga air sebesar 4,3 MW, serta berpotensi untuk pariwisata.
Dengan beroperasinya Bendungan Pamukkulu, diharapkan ada lonjakan signifikan dalam produktivitas pertanian, terutama selama musim kemarau, yang akan membantu petani menjaga stabilitas produksi dan mengurangi risiko gagal panen karena kekurangan air. Bendungan ini juga disambut positif oleh warga, seperti yang diungkapkan Nasir, Sekretaris Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air Pamukkulu Sejahtera, yang berharap dapat meningkatkan intensitas tanam dari 5 ton per hektare menjadi 8 ton per hektare.
Bendungan Pamukkulu menambah daftar bendungan strategis di Sulawesi Selatan, yang mencakup beberapa bendungan penting seperti Bendungan Bili-Bili, Passeloreng, dan Karalloe. Bendungan-bendungan ini sangat berperan dalam mendukung sektor pertanian, memastikan ketersediaan air, dan mengelola risiko banjir, serta memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di Sulsel dan Indonesia secara keseluruhan.



