Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), R.A. Adriani Kusumawardani menekankan pentingnya implementasi Peta Jalan Ekonomi Biru 2024 di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia untuk memaksimalkan potensi ekonomi laut sambil tetap menjaga kelestarian ekosistem laut.
Dalam Pertemuan Para Stakeholder terkait Blue Finance Accelerator (BFA) untuk Implementasi Ekonomi Biru dan Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Lampung, Adriani menyampaikan hal ini dalam keterangan tertulis pada Minggu, (4/8/2024). Ia menambahkan bahwa peta jalan tersebut membuka peluang untuk pengembangan teknologi dan inovasi di sektor kelautan.
“Teknologi berbasis maritim dapat membantu memantau kondisi laut secara real-time, meningkatkan efisiensi dalam penangkapan ikan, serta mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem laut,” jelas Adriani.
Ia menegaskan bahwa sinergi antara para pihak ini dapat menjadi solusi komprehensif dan efektif, mengingat keberhasilan program serupa yang telah dilakukan di daerah-daerah Indonesia bagian tengah.
Kemenko Marves telah bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Asian Development Bank (ADB) melalui program BFA, sebagai bagian dari program kerja sama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ‘Accelerating SDG Investments in Indonesia’ (ASSIST) yang didukung oleh Joint SDG Fund.
Program ini dirancang untuk meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan startup dan usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor ekonomi biru, memperkuat kapasitas dan keahlian Pemerintah Indonesia, serta meningkatkan proyek-proyek Ekonomi Biru melalui kemitraan publik-swasta antara pemerintah dan startup/UKM.
Perwakilan UNDP, Cindy Colondam, memaparkan progres pencapaian program BFA, aktivitas pasca-program BFA, dan program pelibatan masyarakat lokal dari UNDP, terutama dalam membangun kapasitas generasi muda Indonesia di sektor ekonomi berbasis kemaritiman.
Program BFA mendukung pengembangan kapasitas startup dan UKM di sektor Ekonomi Biru seperti perikanan dan akuakultur berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pengelolaan dan pemanfaatan sampah plastik dan limbah laut.
“Dengan lebih dari 500 penerima manfaat bisnis-ke-bisnis dan lebih dari 60.000 orang memperoleh manfaat dari proyek-proyek alumni BFA, termasuk petani, petambak ikan, fasilitas daur ulang, BUMDES, ibu rumah tangga, dan masyarakat pesisir,” jelas Cindy.
Mengimplementasikan peta jalan ini tidak hanya akan memberikan dampak positif pada ekonomi lokal, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan dan berdaya tahan. Dukungan teknologi dan inovasi dalam sektor maritim akan mempercepat kemajuan menuju ekosistem laut yang sehat dan produktif, yang pada gilirannya, akan memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia.



