Potensi Mineral Indonesia: Kunci Sukses Industri Kendaraan Listrik

Indonesia menjadi pemain kunci dalam industri kendaraan listrik global berkat potensi mineral yang melimpah. Dengan cadangan nikel dan kobalt terbesar di dunia, serta investasi besar dari produsen baterai terkemuka, Indonesia siap mendominasi pasar kendaraan listrik. Inovasi dalam pengolahan sumber daya ini memastikan peran vital Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Indonesia sedang merintis menjadi pemain utama dalam rantai pasok dari hulu ke hilir untuk kendaraan listrik global dengan ekosistem yang terintegrasi. Dalam lima tahun terakhir, pemerintah telah mendorong pengembangan kendaraan listrik, baik dari sisi hulu maupun hilir.

Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang luar biasa, seperti lithium, nikel, kobalt, grafit, dan mangan. Selain itu, tembaga dan aluminium juga menjadi komponen penting dalam jaringan teknologi kendaraan listrik. Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam tiga besar produsen terbesar dunia untuk nikel dan kobalt. Indonesia memproduksi 49% nikel dunia dan 5% kobalt global.

Pemerintah mencanangkan industri kendaraan listrik untuk mampu menghasilkan 600 ribu unit pada 2023. Produsen otomotif dan baterai listrik dunia dari Korea Selatan (Korsel) dan Tiongkok telah menanamkan investasinya di Indonesia.

Korporasi Korsel, Hyundai Motor Company, bersama LG Energy Solution di bawah bendera PT HLI Green Power telah membangun pabrik sel baterai mobil listrik di Karawang New Industry City, Jawa Barat. Pada awal Juli 2024, pabrik sel baterai tersebut diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Investasi yang digelontorkan Hyundai dan LG mencapai USD 1,2 miliar untuk tahap I dengan kapasitas produksi sebanyak 10 gigawatt per hour (GWh). Pabrik sel baterai tahap II, yang masih dalam tahap pengembangan, memiliki nilai investasi sekitar USD 2 miliar dengan kapasitas 20 GWh. Total investasi pabrik tersebut mencapai USD 3,2 miliar atau setara Rp 52,16 triliun (asumsi kurs Rp 16.300). Pabrik ini akan terintegrasi dengan pabrik kendaraan listrik Hyundai di Cikarang, Jawa Barat.

Sementara itu, konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC), produsen baterai terbesar dunia asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. (CATL), dan LG Energy Solution Ltd (LGES) berkomitmen untuk memproduksi baterai dengan total 400 GWh mulai tahun ini. Konsorsium ini akan memproduksi baterai kendaraan listrik pertama sebesar 10 GWh dan 5.000 stasiun penukaran baterai (swap battery).

Penguatan ekosistem industri kendaraan ramah energi dan hilirisasi pertambangan juga mendorong BUMN pertambangan batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota holding MIND ID, untuk bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kedua entitas ini sudah menggarap proyek percontohan konversi batu bara menjadi Artificial Graphite dan Anode Sheet untuk bahan baku baterai lithium-ion (li-ion). Konversi batu bara menjadi Artificial Graphite dan Anode Sheet ini merupakan yang pertama di dunia.

Artificial Graphite merupakan bahan utama untuk pembuatan anoda. Anode Sheet adalah elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi (kutub positif), salah satu komponen penting untuk baterai Li-ion.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral dan batu bara Indonesia melalui hilirisasi dan kepemimpinan pasar guna menjadi perusahaan kelas dunia.

Proyek percontohan ini diharapkan dapat berlanjut hingga tahap komersial. Dilo menekankan bahwa keberlanjutan proyek ini memerlukan dukungan dan kajian mendalam dari aspek keekonomiannya, termasuk memperkuat rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Dirut PTBA Arsal Ismail menambahkan bahwa kebutuhan Artificial Graphite dan Anode Sheet akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan industri kendaraan listrik. Tidak hanya untuk industri kendaraan listrik, Artificial Graphite dan Anode Sheet juga dibutuhkan oleh industri-industri lain seperti penyimpanan energi, elektronik, hingga peralatan medis.

Hilirisasi ini sejalan dengan visi PTBA menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan, serta mendukung pencapaian target net zero emission (karbon netral) pada 2060 atau lebih cepat.

Proses konversi batu bara menjadi Artificial Graphite dan Anode Sheet dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah proses karbonisasi batu bara menjadi semikokas atau coalite. Coalite kemudian dihaluskan menjadi serbuk, lalu melalui proses perendaman, pemanasan, pencucian, pengeringan, dan penghalusan hingga menjadi Artificial Graphite, bahan utama Anode Sheet.

Pembuatan Anode Sheet dimulai dari pencampuran Artificial Graphite dengan bahan-bahan lain. Campuran ini kemudian dipanaskan dan dicetak sehingga membentuk lembaran di atas kertas tembaga. Tahap terakhir adalah pengeringan sehingga terbentuk Anode Sheet, komponen penting dalam baterai Li-ion untuk kendaraan listrik.

Indonesia siap mengambil peran penting dalam revolusi kendaraan listrik global, mengubah kekayaan alamnya menjadi produk bernilai tinggi yang akan mendukung keberlanjutan industri transportasi di masa depan.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×