Setelah dua abad tersimpan di Belanda, dua arca Singasari—Bhairawa dan Nandi—akhirnya kembali ke Indonesia. Kini, kedua arca tersebut berkumpul di Museum Nasional Indonesia (MNI) bersama empat arca lainnya dari Candi Singasari, yaitu Ganesha, Mahakala, Durga Mahisasuramardini, dan Nandishwara. Langkah pemulangan ini merupakan bagian dari repatriasi koleksi sejarah Nusantara, dengan arca-arca tersebut tiba secara bertahap—Bhairawa dan Nandi pada September 2024, melengkapi repatriasi sebelumnya pada 2023.
Jejak Kolonial dan Arca Mahakarya Singasari
Sejak awal abad ke-19, tepatnya antara 1817 hingga 1828, enam arca ini dibawa ke Rijksmuseum Amsterdam oleh pemerintah kolonial Belanda. Selama lebih dari dua abad, karya seni monumental ini disimpan di Eropa dan diakui sebagai mahakarya pahatan Nusantara karena detailnya yang sangat halus dan sesuai dengan kaidah ikonografi. Masing-masing arca memiliki tinggi antara 154-175 cm, memperlihatkan betapa majunya teknik seni patung di masa Kerajaan Singasari.
Kini, arca-arca tersebut kembali berdampingan dengan arca Prajnaparamita, patung yang dipulangkan lebih awal oleh Belanda pada 1978. Hal ini menambah kekayaan koleksi peninggalan Singasari di Museum Nasional, sekaligus mengukuhkan peran penting Indonesia dalam pemulangan artefak budayanya.
Gencarnya Repatriasi Warisan Nusantara
Program repatriasi ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang memprioritaskan pemulangan benda bersejarah Nusantara. Dalam kurun waktu hanya dua tahun (2023-2024), sebanyak 760 benda bersejarah telah dipulangkan ke Indonesia. Koleksi tersebut meliputi artefak penting seperti:
- Koleksi Pangeran Diponegoro
- Lukisan gerakan seni rupa Pita Maha dari Bali
- Keris Klungkung dan pusaka Kerajaan Lombok
- Artefak dari Museum Nusantara di Belanda
Bahkan, sebanyak 300 koleksi ini kini dapat dinikmati publik dalam Pameran Repatriasi 2024, menandai kembalinya benda-benda bernilai tinggi ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Transformasi Museum Nasional Indonesia (MNI) Setelah Kebakaran
Museum Nasional Indonesia, yang lebih dikenal sebagai Museum Gajah, resmi dibuka kembali pada 15 Oktober 2024 setelah revitalisasi ekstensif menyusul kebakaran besar yang terjadi pada September 2023. Pembukaan museum ini dipimpin oleh Menko PMK Muhadjir Effendy, diikuti oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim dan sejumlah pejabat penting.
Proses revitalisasi ini bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi juga transformasi konsep museum menjadi lebih modern dan interaktif. MNI mengusung tema “Reimajinasi Warisan Budaya”, yang mengajak pengunjung menjelajahi sejarah dan budaya Nusantara secara inovatif. Museum kini dilengkapi fasilitas baru seperti ruang pamer interaktif, perpustakaan publik, kafe, toko suvenir, dan ruang anak dengan program edukatif berkualitas.
Pameran Repatriasi: Kembalinya Identitas dan Warisan Budaya
Salah satu bagian paling menarik dari wajah baru MNI adalah Pameran Repatriasi 2024, yang berlangsung hingga 31 Desember 2024. Pameran ini menampilkan koleksi pilihan dari proses repatriasi sejak 1978, termasuk 84 artefak tahap pertama dari total 288 item yang dipulangkan berdasarkan perjanjian Indonesia-Belanda pada 20 September 2024.
Koleksi tersebut meliputi berbagai arca, perhiasan emas dari pampasan Puputan Badung dan Tabanan di Bali, serta benda bersejarah lainnya. Kehadiran pameran ini bukan sekadar perayaan atas kembalinya benda-benda berharga, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga dan mengapresiasi warisan budaya bangsa.
Argumen: Repatriasi dan Revitalisasi Museum sebagai Langkah Strategis
Kembalinya artefak-artefak penting seperti arca Singasari ini tidak hanya memiliki makna simbolis, tetapi juga strategis bagi Indonesia. Pemulangan ini adalah langkah untuk memulihkan identitas budaya dan memperkuat posisi Indonesia dalam kancah internasional sebagai pemilik sah warisan sejarah tersebut. Dengan artefak-artefak tersebut kembali berada di tanah air, Indonesia juga bisa lebih leluasa menggali, merawat, dan menampilkan sejarahnya kepada dunia.
Namun, keberhasilan repatriasi harus diiringi dengan tata kelola museum yang baik agar masyarakat tertarik untuk mengapresiasi peninggalan berharga ini. Sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Mahendra, Plt Kepala Indonesian Heritage Agency, museum di era modern tak cukup hanya memamerkan koleksi, melainkan juga harus menghadirkan narasi yang menarik agar publik merasa terlibat dan tertarik untuk berkunjung.
Dengan konsep Reimajinasi Warisan Budaya, MNI berusaha membagi pengalaman sejarah ke dalam tiga narasi besar:
- Masa Lalu Penuh Makna (Gedung A) – Menggali sejarah prasejarah dan perjalanan spiritual Nusantara.
- Marwah Indonesia (Gedung B) – Menampilkan identitas bangsa melalui keberagaman budaya.
- Bekal Masa Depan Berkelanjutan (Gedung C) – Menciptakan inspirasi untuk masa depan melalui pelestarian budaya.
Museum Gajah, Wajah Baru, dan Harapan Baru
Pembukaan kembali Museum Nasional Indonesia bukan hanya sekadar perbaikan setelah kebakaran, melainkan juga tonggak baru dalam pengelolaan museum di Indonesia. Dengan konsep dan fasilitas yang diperbarui, MNI tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang edukasi dan rekreasi yang menyenangkan bagi pengunjung dari berbagai kalangan.
Pameran Repatriasi 2024 bukan hanya menampilkan artefak, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang identitas, perjuangan, dan kebanggaan bangsa. Kembalinya benda-benda ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan dukungan lintas sektor, MNI siap memainkan peran penting sebagai penjaga warisan budaya dan pusat inspirasi bagi masa depan yang berkelanjutan.



