Brigade Pangan Cendekia: Langkah Nyata Menuju Swasembada Pangan

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan. Hal ini ditegaskan dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di mana Ketua ICMI, Marwah Daud Ibrahim, memperkenalkan program Brigade Pangan Cendekia sebagai perpanjangan dari inisiatif Brigade Pangan yang digagas Kementerian Pertanian.

Menghubungkan Cendekiawan dengan Dunia Nyata

Program Brigade Pangan Cendekia dirancang untuk memberdayakan petani milenial, meningkatkan produktivitas pertanian, dan menciptakan sinergi lintas sektor melalui pembentukan koperasi multi-pihak. Dalam hal ini, ICMI menegaskan peran cendekiawan tidak lagi sekadar pengamat, tetapi turun langsung membantu petani, terutama generasi muda, mengoptimalkan lahan intensifikasi maupun ekstensifikasi.

“Ini adalah saat di mana cendekiawan harus menjadi bagian aktif dalam solusi. Mereka tidak hanya memberikan ide, tetapi juga menggerakkan perubahan di lapangan,” ungkap Marwah Daud dalam keterangan pers pada Minggu (1/12/2024).

Indramayu: Awal Perubahan Besar

Sebagai langkah awal, program ini akan diimplementasikan di Indramayu, salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; selain potensi pertanian yang besar, banyak warga Indramayu bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.

“Kami ingin menciptakan perubahan nyata di Indramayu. Petani di sini harus bisa sejahtera tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan teknologi modern, bibit unggul, dan pupuk berkualitas, kami yakin produktivitas mereka bisa melonjak drastis,” tegas Marwah.

Koperasi Multi-Pihak: Solusi Inklusif untuk Pembiayaan

ICMI membawa inovasi dengan memperkenalkan koperasi multi-pihak yang melibatkan produsen, konsumen, ahli, dan investor. Konsep ini diharapkan dapat menjadi solusi atas ketergantungan petani pada pinjaman dari rentenir atau remitansi pekerja migran.

“Bayangkan jika konsumen ikut mendanai pertanian. Ini akan membuka akses modal yang lebih adil bagi petani sekaligus mempererat hubungan antara produsen dan konsumen,” jelasnya. Model ini tak hanya soal pembiayaan, tetapi juga memacu rasa tanggung jawab bersama terhadap ketahanan pangan nasional.

Pendekatan Klaster untuk Efisiensi dan Pemberdayaan

ICMI mengadopsi pendekatan berbasis klaster dengan skala besar—5.000 hektar lahan yang dibagi menjadi unit-unit kecil sekitar 40 hektar per kelompok. Pendekatan ini bukan hanya efisien, tetapi juga memberdayakan komunitas petani di berbagai daerah.

Selain itu, regenerasi petani menjadi salah satu fokus utama. ICMI mendorong sarjana muda untuk terjun ke sektor pertanian dengan memberikan akses ke lahan sewa, peralatan modern, dan pelatihan yang disesuaikan kebutuhan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi tanpa memperkuat kelembagaan petani. Dengan pendekatan social engineering, kami ingin memastikan bahwa masyarakat tani bisa mandiri dan memiliki daya tahan yang kuat,” tegas Marwah.

Swasembada Pangan: Urgensi Nasional

Menurut ICMI, swasembada pangan harus menjadi prioritas nasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Marwah menggambarkannya sebagai situasi darurat yang memerlukan keterlibatan semua pihak—mulai dari guru, cendekiawan, hingga masyarakat umum.

“Bayangkan jika kita menghadapi situasi seperti perang. Semua harus bergerak bersama. Jika ini terjadi, swasembada pangan bukan hanya mimpi, tapi sebuah kenyataan yang bisa terwujud lebih cepat,” tambahnya.

Optimisme Menuju Masa Depan

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, ICMI percaya bahwa program Brigade Pangan akan menjadi katalisator yang mampu mendorong ketahanan pangan berkelanjutan. Lebih dari itu, inisiatif ini juga diharapkan menciptakan kesejahteraan yang merata di seluruh penjuru negeri.

Argumen ini mempertegas bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas bersama seluruh elemen bangsa. Jika sinergi lintas sektor terbangun dengan baik, swasembada pangan bukan sekadar target ambisius, melainkan pondasi kokoh menuju kedaulatan ekonomi yang lebih baik.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×