Langkah kaki Hendra menyatu dengan napasnya yang mulai berat. Pria berusia 49 tahun itu berusaha mengatur oksigen yang masuk dan keluar, meski cuping hidungnya kembang-kempis tak beraturan. Di depan matanya, terbentang jalur menurun berupa anak tangga beton yang menantang keberanian. Di sisi kiri, jurang menganga memberi kesan mencekam, sementara di kanan, bukit hijau dengan latar megah Gunung Merapi menciptakan pemandangan yang memukau.
Meski waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, matahari tampak malu-malu menembus kabut tebal yang menyelimuti kawasan. Hendra sedang menuju Dusun Girpasang, sebuah desa kecil di Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, untuk mengantarkan bantuan dari kantornya. Perjalanan ini bukan sekadar misi kemanusiaan, tetapi juga petualangan menguji nyali.
Jalan Menuju Girpasang: Antara Tantangan dan Keindahan
Dusun Girpasang terletak di lereng Gunung Merapi, dan untuk mencapainya, siap-siap meniti jalur ekstrem yang kerap dijuluki 1.001 Anak Tangga. Jalur ini melintasi dua lembah di Jurang Pakis yang berkedalaman 150 meter. Jalannya berkelok mengikuti kontur bukit, hanya bisa diakses dengan berjalan kaki, membuat setiap langkah menjadi pengalaman yang mendebarkan sekaligus mendekatkan diri pada alam.
Pada September 2021, saat Hendra berkunjung, pembangunan jembatan gantung sedang berlangsung. Sebelumnya, akses utama Girpasang hanya melalui jalur anak tangga ini atau menggunakan gondola sederhana yang dirancang khusus untuk barang. Gondola tersebut digerakkan oleh mesin motor bekas, dengan empat kabel baja sebagai penyangga.
Kini, setelah jembatan gantung sepanjang 120 meter di atas ketinggian 150 meter diresmikan pada Januari 2022, perjalanan ke Girpasang menjadi lebih mudah dan efisien. Dibangun dengan anggaran Rp3,2 miliar, jembatan ini mampu menahan beban hingga 50 orang sekaligus. Dengan lebar 1,8 meter, jembatan ini nyaman untuk dilewati, meskipun guncangan kecil di tengah lintasan kerap membuat jantung berdetak lebih kencang.
Sensasi Meniti Jembatan Gantung Girpasang
Melintasi jembatan gantung Girpasang bukan sekadar soal berpindah dari satu dusun ke dusun lain. Ini adalah pengalaman penuh sensasi. Dengan jurang dan lembah di bawah kaki, serta pemandangan sungai yang mengalir di kejauhan, setiap langkah menjadi uji keberanian. Bahkan, hanya melihat ke bawah bisa memacu adrenalin.
Keberadaan jembatan ini benar-benar mengubah kehidupan warga Girpasang. Sebelum jembatan, perjalanan keluar masuk dusun memakan waktu hingga dua jam. Kini, hanya butuh 10 menit untuk mencapai dusun tetangga. Jembatan ini juga menjadi daya tarik wisata baru, membawa ribuan pengunjung setiap pekannya.
Girpasang: Perpaduan Antara Petualangan dan Kearifan Lokal
Girpasang bukan hanya tentang petualangan. Dusun ini juga menawarkan daya tarik budaya dan kuliner. Pengunjung bisa mencicipi nasi jagung dengan ingkung ayam kampung, gorengan tradisional seperti talas dan singkong, hingga kopi panas yang disajikan dengan latar belakang pemandangan Gunung Merapi. Bahkan, kini ada gondola wisata berkapasitas empat orang, dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Wahana ini memberikan pengalaman unik menyeberang jurang dengan harga terjangkau, hanya Rp60.000 untuk perjalanan bolak-balik.
Tidak ketinggalan, beberapa warga Girpasang juga telah mengembangkan homestay dengan 12 kamar. Pengunjung yang ingin merasakan kedamaian dan udara sejuk khas pegunungan bisa menginap dan menikmati keindahan Girpasang lebih lama.
Transformasi Ekonomi dan Pengakuan Internasional
Sejak keberadaan jembatan gantung dan popularitas Girpasang meningkat, ekonomi lokal pun ikut bergeliat. Warga yang sebelumnya hanya bertani, kini mulai membuka usaha kuliner, menjual hasil kebun, hingga menyediakan akomodasi untuk wisatawan.
Pengakuan terhadap keindahan dan keunikan Girpasang juga telah mendunia. Pada 2022, dusun ini memenangkan Anugerah Pesona Indonesia (API) kategori dataran tinggi. Prestasi ini semakin memantapkan Girpasang sebagai destinasi wisata unggulan yang memadukan petualangan, keindahan alam, dan budaya lokal.



