Korea dengan Ginseng, Indonesia Unggulkan Kelor sebagai Superfood

Tanaman kelor, yang dikenal dengan nama ilmiah Moringa oleifera Lam, mendadak menjadi perhatian utama masyarakat, terutama saat pandemi. Keunggulannya yang luar biasa dalam hal kesehatan membuat tanaman berdaun kecil ini menjadi primadona, bahkan di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah setempat mengambil langkah besar dengan meluncurkan gerakan menanam kelor dan mendorong konsumsi tanaman ini oleh masyarakat, khususnya ibu hamil dan menyusui. Tanaman kelor juga diberikan kepada anak-anak sekolah karena diketahui memiliki manfaat yang luar biasa dalam mendukung tumbuh kembang mereka. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, pun sangat mendukung riset lebih lanjut terkait kelor, berharap agar tanaman ini bisa menjadi obat tradisional Indonesia yang terkenal dan bersaing dengan ginseng dari Korea Selatan di pasar global.

Tidak hanya sebagai obat herbal, kelor juga memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif, terutama di daerah-daerah terpencil yang rawan kelaparan, seperti di NTT. Kelor diketahui kaya akan nutrisi penting, seperti kalsium dan protein. Bahkan, kandungan kalsium dalam kelor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi, yang selama ini dikenal sebagai sumber utama kalsium. Dalam beberapa penelitian, kalsium kelor ditemukan mencapai 17 hingga 21 kali lipat dari susu sapi. Tanaman ini juga memiliki kandungan protein yang setara dengan kacang-kacangan dan dapat menjadi sumber protein yang sangat baik bagi masyarakat yang kesulitan memperoleh pangan bergizi.

Selain itu, kelor mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker. Senyawa ini memiliki berbagai fungsi lainnya, seperti melindungi tanaman dari hama, serangan penyakit, dan bahkan stres lingkungan. Flavonoid yang terkandung dalam kelor pun mendapat perhatian khusus, karena senyawa ini telah banyak dipelajari dan digunakan dalam pengobatan modern.

Proses pembudidayaan kelor pun terbilang mudah. Tanaman ini dapat diperbanyak melalui stek batang atau biji. Meski kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan, stek batang memang lebih cepat menghasilkan daun dan buah, namun membutuhkan batang yang memenuhi kriteria tertentu. Di sisi lain, perbanyakan melalui biji lebih cocok untuk budidaya intensif dan dapat menghasilkan akar yang lebih kuat. Perawatan tanaman kelor juga cukup sederhana, meski harus hati-hati dengan pengairan agar tidak tergenang, karena kelebihan air dapat menyebabkan penyakit pada akar.

Sebagai langkah konkret, penelitian menunjukkan bahwa kelor memiliki potensi untuk menghasilkan flavonoid dan biomassa daun yang tinggi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sumatra, yang terbukti memiliki kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan tertinggi. Dengan berbagai bukti ilmiah dan potensi yang dimilikinya, kelor memang layak disebut sebagai “the miracle tree” dan bisa bersaing dengan ginseng sebagai produk herbal global. Oleh karena itu, mendukung gerakan konsumsi kelor menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×