Indonesia adalah negeri dengan kekayaan geologi, hayati, dan budaya yang melimpah. Kekayaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan nasional tetapi juga peluang besar untuk pengembangan konservasi, edukasi, dan ekonomi lokal, khususnya melalui sektor pariwisata. Salah satu kekayaan geologi yang mencuri perhatian adalah Danau Poso, yang menduduki peringkat ketiga sebagai danau terbesar di Indonesia setelah Danau Toba di Sumatra Utara dan Danau Singkarak di Sumatra Barat.
Tidak hanya luas, Danau Poso juga termasuk salah satu danau terdalam di Indonesia, dengan kedalaman mencapai 450 meter. Dengan panjang 32 kilometer dan lebar 16 kilometer, danau ini membentang megah di atas lahan seluas 32.000 hektare. Terletak pada ketinggian 657 meter di atas permukaan laut, Danau Poso menjadi destinasi yang tak hanya menawarkan keindahan tetapi juga kesejukan.
Keunikan Danau Poso tak berhenti pada ukurannya. Pasir kuning keemasan yang membingkai tepiannya memberikan daya tarik tersendiri, seolah memantulkan sinar matahari dengan kemilau eksotis. Gelombang airnya yang menyerupai ombak laut menambah pesona unik, menjadikannya terlihat seperti pantai raksasa di tengah pegunungan. Selain itu, warna airnya yang berbeda—hijau di pinggir dan biru di tengah—menciptakan panorama yang memukau bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Lokasinya yang strategis di Kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menjadikan Danau Poso sebagai titik penghubung utama antara Toraja di selatan dan Gorontalo-Manado di utara. Keberadaannya yang mudah diakses ini membuatnya semakin potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bahkan telah menggagas rencana untuk menjadikan Danau Poso sebagai warisan geologi yang diakui, dengan tujuan mengembangkannya menjadi taman bumi atau geopark.
Usulan pengembangan geopark ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk akademisi, peneliti, sejarawan, dan tokoh masyarakat. Kajian ilmiah yang dilakukan telah diserahkan kepada Gubernur Sulawesi Tengah, menandai langkah serius dalam upaya ini. Jika berhasil, Danau Poso berpotensi menjadi bagian dari jaringan geopark global yang diakui UNESCO, seperti Merangin, Ijen, Maros Pangkep, dan Raja Ampat yang baru-baru ini ditetapkan.
Geopark tidak hanya melestarikan keindahan alam dan nilai geologis tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, Danau Poso sangat layak untuk diangkat ke tingkat geopark nasional maupun global. Dengan keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya yang dimilikinya, serta keberadaan danau purba, spesies endemik, dan pusat arkeologi, kawasan ini memenuhi hampir semua kriteria yang diperlukan.
Pengembangan geopark tidaklah instan. Prosesnya melibatkan penetapan warisan geologi, perencanaan strategis, pengelolaan kawasan, hingga pengakuan resmi. Namun, dampak jangka panjangnya sangat signifikan, termasuk dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian alam. Dengan menjadikan Danau Poso sebagai geopark, bukan hanya alam yang terjaga, tetapi juga masyarakat di sekitarnya yang akan menikmati manfaat ekonomi dan sosial secara langsung.
Cerita tentang Danau Poso yang menyimpan misteri dan keunikan memberikan daya tarik tersendiri. Dalam bingkai geopark, semua unsur ini menjadi satu narasi besar yang menghubungkan manusia, alam, dan sejarah. Jadi, mari kita jaga dan dukung pengembangan Danau Poso, karena menjaga alam berarti memastikan keberlanjutan hidup kita bersama.



