Produksi dan pengemasan beras organik di Banyuwangi kini menjadi sorotan utama, terutama di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Sirtanio yang berlokasi di Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Keberhasilan ini menunjukkan betapa Banyuwangi mampu memanfaatkan potensi agrarisnya untuk menciptakan inovasi dalam sektor pertanian.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, yang mengunjungi lokasi tersebut, memberikan apresiasi besar atas akselerasi program pertanian yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Menurutnya, langkah ini tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga berhasil menarik minat anak muda untuk aktif di dunia pertanian. Kehadiran generasi muda dalam sektor ini dianggap sebagai angin segar yang membawa energi baru untuk membangun inovasi dan keberlanjutan di bidang pertanian.
Banyuwangi, yang dikenal sebagai daerah agraris dengan hasil pertanian melimpah, telah membuktikan diri sebagai pelopor inovasi di sektor ini. Salah satu buktinya adalah produk beras organik dari Sirtanio yang kini telah memasuki 18.000 supermarket di seluruh Indonesia, bahkan diekspor ke negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Italia. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari penerapan sistem pertanian organik yang telah mendapatkan sertifikasi resmi.
Wamentan juga menyempatkan diri bertemu dengan para petani muda Banyuwangi, yang tergabung dalam program Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS) dari Kementerian Pertanian. Ia mengaku kagum melihat antusiasme sekitar 9.000 anak muda Banyuwangi yang berpartisipasi, menjadikan daerah ini salah satu dengan akselerasi terbaik dalam program YESS. Kehadiran generasi milenial di dunia pertanian, menurut Sudaryono, sangat penting dalam mewujudkan target pemerintah untuk menghentikan impor beberapa komoditas pangan, seperti beras, jagung, garam konsumsi, dan gula konsumsi pada 2025.
Semangat untuk meningkatkan produksi pangan lokal ini juga direspons positif oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh program-program Kementan dengan berbagai inisiatif, termasuk program Jagoan Tani yang dirancang sebagai inkubasi bagi petani muda. Ipuk optimis, dengan pendekatan ini, anak muda Banyuwangi akan memiliki lebih banyak peluang untuk berkembang di sektor pertanian.
Selain itu, Pemkab Banyuwangi terus mendorong penerapan sistem pertanian terintegrasi dan budidaya organik. Ipuk menekankan bahwa produk organik tidak hanya diminati pasar, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar. Oleh karena itu, ia mengajak para petani untuk terus berinovasi dan memanfaatkan potensi ini untuk menciptakan keberlanjutan pertanian di Banyuwangi.
Langkah-langkah ini tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan nasional tetapi juga menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menjadi bidang yang menarik dan menguntungkan bagi generasi muda. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, Banyuwangi berpeluang menjadi contoh sukses bagi daerah lain dalam membangun sektor pertanian yang modern, berkelanjutan, dan berdaya saing global.



