Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, menekankan peran penting koperasi dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Program ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat koperasi sebagai badan usaha rakyat dan mendorong perekonomian lokal. Dengan adanya 1.336 unit koperasi di Indonesia yang telah dilibatkan, Budi Arie percaya bahwa koperasi memiliki potensi besar untuk menyukseskan program ini. Pada peluncuran perdana program MBG di SD Angkasa 5 Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/1/2025), Budi Arie menyampaikan bahwa beberapa koperasi telah menjalani uji coba dan siap berperan sebagai mitra strategis dalam memastikan tersedianya makanan bergizi bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari program ini, koperasi akan berperan dalam berbagai aspek, mulai dari mendukung petani, nelayan, dan peternak lokal yang menjadi pemasok bahan pangan, hingga mengelola Satuan Pelayanan Penyediaan Gizi (SPPG) dengan standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan kualitas makanan yang disediakan bisa terjamin dan sesuai dengan standar gizi yang dibutuhkan. Program MBG bertujuan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga untuk memastikan bahan baku yang digunakan berasal dari produk lokal. Hal ini sangat penting untuk menjaga perputaran ekonomi di tingkat masyarakat, serta menciptakan multiplier effect yang besar bagi perekonomian lokal.
Menteri Budi Arie juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, terutama pemerintah dan koperasi, dalam memastikan distribusi dan manajemen program MBG berjalan efektif. Koperasi akan menjadi pengelola distribusi sekaligus pemasok bahan baku, dan dengan melibatkan ekonomi lokal, petani dan nelayan akan mendapatkan kepastian pasar. Program ini diharapkan bisa memberikan dampak positif tidak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi sektor pertanian dan perikanan, yang selama ini menjadi pilar penting perekonomian Indonesia. “Dengan adanya offtaker seperti Badan Gizi Nasional (BGN), petani dan nelayan akan lebih bersemangat karena ada kepastian pasar untuk produk mereka,” ungkap Budi Arie.
Secara keseluruhan, Program MBG lebih dari sekadar inisiatif kesehatan. Ini adalah cara untuk mendorong ekonomi rakyat dan menciptakan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Dengan melibatkan berbagai sektor, program ini tidak hanya memastikan distribusi pangan bergizi, tetapi juga mendukung pemberdayaan petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal. Hal ini penting untuk menciptakan kesejahteraan yang merata, dengan ekonomi yang bergerak dan tumbuh di akar rumput.



