Ismu, yang kini berusia 39 tahun, baru kurang dari setahun terlibat dalam kegiatan konservasi di Taman Hutan Nasional Kapuas Hulu. Latar belakang pendidikannya dalam Manajemen Informatika di sebuah universitas swasta di Surakarta, Jawa Tengah, tidak berhubungan langsung dengan dunia konservasi. Meski begitu, kecintaannya pada pembuatan film dokumenter bertema lingkungan membawanya ke daerah Kalimantan bagian barat, di mana ia akhirnya bergabung dengan World Wildlife Foundation (WWF) sebagai relawan. Sebelumnya, Ismu lebih dikenal sebagai seorang pembuat film independen yang sering menggarap proyek-proyek dokumenter yang berkaitan dengan alam.
Awalnya, minat Ismu terhadap Kalimantan lebih dipicu oleh keunikan budaya Dayak, yang ia temui dalam majalah National Geographic. Ketertarikannya semakin mendalam setelah ia melihat foto seorang Dayak yang memiliki tato pesawat terbang, yang baginya sangat menarik. Keinginan untuk menjelajah pedalaman Kalimantan pun tumbuh, yang akhirnya membawanya tidak hanya ke dunia konservasi tetapi juga menemui pasangannya yang berasal dari Suku Dayak Tamambaloh.
Sebagai relawan WWF di kawasan Kapuas Hulu, Ismu terlibat langsung dalam Festival Tahunan Danau Sentarum, yang diadakan pada 25 Oktober 2019. Festival ini memiliki tema “Konservasi Hasil Hutan untuk Peningkatan Ekonomi Berkelanjutan”, di mana Ismu dan timnya bertanggung jawab menyiapkan booth yang akan memamerkan produk olahan hasil hutan dari masyarakat sekitar Taman Nasional Danau Sentarum. Ismu menjelaskan bahwa acara tersebut merupakan upaya tahunan untuk memperbarui informasi mengenai pencapaian yang telah dilakukan di desa-desa yang didampingi oleh WWF.
Kegiatan yang dilakukan oleh WWF di desa-desa sekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, seperti Melembah, Labian Iraan, dan Semenanjung, bertujuan untuk mendukung tata kelola desa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Misalnya, di Desa Melembah, WWF membantu masyarakat mengelola ekowisata untuk menarik pengunjung yang tertarik dengan observasi orangutan dan olahraga memancing. Sementara itu, di Labian Iraan, WWF mendorong pengolahan hasil hutan nonkayunya, seperti buah Tengkawang, yang dijadikan sabun herbal untuk kulit sensitif.
Selain itu, Ismu juga menyoroti pentingnya kawasan pegunungan Muller-Schaner yang menjadi cadangan air utama bagi sungai-sungai besar di Kalimantan, seperti Barito, Kapuas, dan Mahakam. Keberadaan pegunungan ini sangat vital untuk kelangsungan kehidupan di Pulau Kalimantan, karena air yang disimpan di sana mengalir ke berbagai daerah. Menurut Ismu, jika pegunungan ini terganggu, maka dampaknya akan sangat besar bagi seluruh ekosistem dan masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Di kawasan konservasi, orangutan lebih suka berada di area buffer zone atau zona penyangga, yang terletak di sekitar kawasan hutan yang dilindungi. Hal ini karena orangutan, meskipun dapat bertahan hidup di kawasan konservasi, cenderung lebih memilih lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari gangguan manusia. Oleh karena itu, Ismu menekankan pentingnya kampanye untuk melestarikan habitat orangutan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di area penyangga, guna mengurangi ancaman terhadap kelangsungan hidup mereka.
Tidak hanya itu, Ismu juga menyinggung jejak Wallace, seorang naturalis terkenal dari Inggris yang mencatat perburuan orangutan di Kalimantan pada abad 19. Wallace mencatat pertemuannya dengan orangutan di kawasan yang sekarang menjadi perbatasan Sarawak dan Kapuas Hulu. Ismu menjelaskan bahwa habitat orangutan di Sarawak dan Kapuas Hulu sebenarnya merupakan bagian dari satu ekosistem hutan tropis yang luas dan terhubung, yang melibatkan kawasan konservasi Batang Aik di Sarawak, yang merupakan kelanjutan dari habitat Taman Nasional Danau Sentarum. Seiring berjalannya waktu, upaya konservasi ini menjadi semakin penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di kawasan ini.



