Riset terkait Smart Farming Biosalin 1 dan 2 yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama pemerintah kota di Kelompok Tani Sumber Rejeki, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang, akan berlanjut hingga tahun 2025. Di musim tanam 2024 ini, benih padi Biosalin 1 dan 2 kembali disemai pada lahan salin di kawasan tersebut. Ini merupakan langkah besar dalam mendorong ketahanan pangan nasional, dengan lahan pesisir seluas 20 hektare yang dikembangkan, serta potensi lebih luas lagi hingga 400 hektare di wilayah Kecamatan Tugu. Padi Biosalin, yang dikenal tahan terhadap kadar garam tinggi, diharapkan dapat menjadi solusi untuk lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif atau lahan tidur.
Inovasi dalam program Smart Farming ini merupakan bagian dari upaya BRIN untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan yang semakin mendesak, seiring dengan dampak perubahan iklim dan pesatnya pertumbuhan populasi. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menyebutkan bahwa selama 2024, ORPP telah menghasilkan berbagai inovasi yang tidak hanya meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil pertanian, tetapi juga mendukung ketahanan pangan melalui efisiensi proses pascapanen. Meski begitu, ORPP menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan sumber daya dan dampak negatif perubahan iklim yang mengancam hasil pertanian.
Tantangan-tantangan ini tidak lantas membuat BRIN berhenti berinovasi. Sebaliknya, melalui kolaborasi yang lebih intens dengan berbagai lembaga dan pemangku kepentingan, tujuh pusat riset di bawah ORPP berfokus pada pengembangan teknologi yang bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan. Dengan lebih dari 1.200 SDM yang tersebar di berbagai provinsi, BRIN mampu mencapai rasio pemanfaatan kekayaan intelektual 100 persen, yang menunjukkan bahwa riset yang dilakukan sudah banyak diimplementasikan dan bermanfaat.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, juga menyoroti bagaimana negara-negara Afrika seperti Ethiopia dan Nigeria berhasil maju di sektor pertanian berkat pemanfaatan teknologi. Hal ini membuka peluang bagi BRIN untuk lebih mengembangkan teknologi pertanian mulai dari produksi hingga pengolahan, termasuk penyimpanan dan pengawetan produk pangan yang mudah rusak seperti daging dan ikan. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, tantangan lainnya adalah mengubah pola pikir petani di Indonesia, yang selama ini lebih banyak bekerja secara mandiri, menjadi sistem yang lebih terorganisir, seperti sistem petani bergaji tetap. Sistem ini akan memudahkan dalam menciptakan produksi yang berkelanjutan dan memastikan stabilitas harga tanaman.
Selain itu, teknologi irigasi presisi yang berbasis kecerdasan buatan (AI) diharapkan dapat membantu petani dalam mengelola sumber daya air dengan lebih efisien, serta memastikan lahan pertanian tetap terjaga dan tidak berkurang akibat konversi menjadi kawasan industri atau permukiman. BRIN juga melihat bahwa teknologi irigasi tradisional seperti Subak di Bali atau solusi penampungan air laut dapat menjadi alternatif dalam mengatasi masalah pengelolaan air dan banjir. Dengan demikian, pengelolaan lahan dan teknologi pertanian yang lebih berkelanjutan menjadi sangat krusial bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Teknologi pupuk berbasis rumput laut yang dikembangkan pun diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menjaga kesuburan tanah, dan mendukung keberlanjutan sistem pertanian di masa depan.



