Peta Jalan Menuju Ekosistem Industri

Indonesia sedang melangkah dengan penuh semangat menuju penguatan ekosistem industri hijau. Langkah besar ini kembali digaungkan oleh Kementerian Perindustrian dalam acara tahunan Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 mendatang. Upaya ini menjadi bagian integral dari komitmen global untuk menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dan menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim.

Tidak bisa dipungkiri, sektor industri memegang peran strategis sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, sektor ini juga bertanggung jawab atas sebagian besar emisi GRK. Dengan visi ambisius mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050—satu dekade lebih cepat dari target nasional pada 2060—Indonesia menunjukkan tekadnya untuk menjadi pelopor di kawasan Asia Tenggara dalam transisi menuju industri rendah karbon.

Transformasi menuju industri hijau bukan hanya sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menegaskan bahwa masa depan bangsa dan bumi kita bergantung pada keberhasilan transformasi ini. Dengan keyakinan ini, pemerintah memulai berbagai langkah, termasuk menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk sembilan subsektor industri prioritas. Inisiatif ini mencakup penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, hingga inovasi teknologi untuk menekan emisi.

Selain itu, Indonesia juga terus memperkuat kebijakan seperti Standar Industri Hijau (SIH) yang saat ini telah melibatkan 146 perusahaan industri. Dukungan terhadap perusahaan-perusahaan yang berkomitmen terhadap keberlanjutan juga difasilitasi melalui platform digital, SELASIH, yang memberikan kemudahan dalam proses sertifikasi dan transparansi pelaporan emisi. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi benar-benar bertindak untuk masa depan yang lebih baik.

Tidak hanya di atas kertas, langkah ini juga menghasilkan dampak nyata. Pada akhir 2024, sektor industri Indonesia berhasil mengurangi emisi sebesar 6,92 juta ton CO2eq, melampaui target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) untuk tahun 2030. Efisiensi biaya industri hijau pun meningkat menjadi 7,31 persen, naik dari 6,71 persen di tahun sebelumnya. Capaian ini tidak hanya menjadi bukti keberhasilan, tetapi juga memberikan motivasi untuk melangkah lebih jauh.

Transformasi hijau ini tidak akan berhasil tanpa kolaborasi. Dengan menggandeng berbagai organisasi internasional seperti World Resources Institute (WRI) dan Institute for Essential Services Reform (IESR), Indonesia memastikan pendekatan yang komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan. Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, bahkan menyebut ini sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin regional dalam industri rendah karbon.

Lebih dari sekadar mengurangi emisi, upaya ini juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonominya. Dengan beragam program strategis yang telah dirancang, transformasi ini bukan hanya tentang menyelamatkan bumi, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih cerah untuk generasi mendatang. Optimisme ini tercermin dalam komitmen para pemangku kepentingan, yang bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi hijau yang diperhitungkan di dunia.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×