Gizi Membaik, Ekonomi Lokal Semakin Berdaya

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diluncurkan sebagai bagian dari agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bertujuan untuk menciptakan generasi yang sehat dan cerdas di Indonesia. Salah satu prioritas dari program ini adalah memastikan anak-anak sekolah mendapat asupan gizi yang seimbang, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul. MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi penerima manfaat, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal. Dengan melibatkan pasokan pangan yang berasal dari masyarakat setempat, program ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dimulai pada 6 Januari 2025, program MBG akan dijalankan serentak di 26 provinsi di Indonesia dengan tujuan mulia untuk menurunkan angka stunting, kemiskinan, dan menciptakan masyarakat yang lebih produktif. Target utama program ini adalah balita, santri, siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA, serta ibu hamil dan menyusui. Pada tahap awal, 190 dari 937 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah siap beroperasi. Program ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas gizi tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang besar karena melibatkan berbagai lapisan masyarakat dalam proses pengadaan dan distribusi pangan.

Dalam implementasinya, program MBG menyasar para pedagang lokal untuk menyediakan bahan baku yang dibutuhkan di setiap SPPG. Komoditas lokal seperti buah, sayur, daging, ikan, dan beras akan menjadi prioritas utama, sehingga mendukung petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Lebih dari itu, petugas dapur yang direkrut dari masyarakat sekitar juga berperan dalam memperkuat ekonomi lokal. Mereka tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi ibu rumah tangga dan warga sekitar yang turut membantu dalam proses penyediaan makanan.

Program ini juga memungkinkan penggunaan dapur-dapur yang sudah ada, seperti dapur UMKM atau dapur bersama, yang tidak hanya menghemat anggaran tetapi juga menekan biaya distribusi karena lokasi dapur yang dekat dengan sekolah. Dengan penghematan ini, dana yang tersedia bisa digunakan untuk menambah menu yang lebih bervariasi dan bergizi. Selain itu, berkat meningkatnya pesanan makanan, sektor tenaga kerja juga mendapat manfaat, dengan adanya penyerapan tenaga kerja tambahan untuk pekerjaan seperti juru masak, pengantar makanan, hingga pengemasan.

Menurut analisis dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), program MBG diperkirakan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp4.510 triliun pada 2025. Alokasi anggaran sebesar Rp71 triliun untuk program ini diproyeksikan akan menyasar sekitar 19,47 juta penerima manfaat. Dengan target yang semakin berkembang, diharapkan pada akhir tahun 2025 jumlah penerima manfaat dapat mencapai 15 juta orang, dan pada tahun 2029, total penerima manfaat akan mencapai 82,9 juta orang.

Program MBG ini bukanlah yang pertama kali dilakukan, mengingat beberapa daerah sebelumnya telah memberikan sarapan gratis bagi siswa. Namun, perbedaan utamanya adalah program MBG kali ini lebih menyeluruh, tidak hanya terbatas pada siswa sekolah negeri, dan dijalankan setiap hari. Selain itu, program ini juga mencakup balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dengan memperhatikan kandungan gizi dan pola distribusi yang mencakup hingga daerah terpencil. Ini merupakan langkah strategis untuk menekan angka stunting dan mendukung tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045. Program ini diharapkan dapat menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di kancah global.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×