Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Vokasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya mengubah wajah pendidikan vokasi agar lebih selaras dengan kebutuhan industri. Salah satu langkah inovatif yang diambil adalah melalui Business Matching.
Ditjen Pendidikan Vokasi, melalui Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI), menyelenggarakan kegiatan Business Matching 2024 yang diadakan di Solo Technopark pada Selasa (21/5/2024).
Acara ini adalah bagian dari Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah, yang diinisiasi oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Vokasi (PTPPV) Jawa Tengah.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Mitras DUDI, Uuf Brajawidagda, menekankan pentingnya kolaborasi berbasis potensi daerah. “Konsorsium ini menghubungkan berbagai sekolah untuk saling belajar dan bertukar praktik terbaik. Selain itu, ini adalah upaya mendekatkan industri dengan SMK sehingga membuka peluang kolaborasi,” kata Uuf dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Jumat (24/5/2024).
Menurut Uuf, kegiatan ini juga dapat meningkatkan peran pemerintah daerah dalam mempercepat transformasi pendidikan vokasi. “Semoga acara ini bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain untuk mengadakan Business Matching seperti ini,” harapnya.
Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang beragam. Penjabat (Pj.) Gubernur Jateng, yang diwakili oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, mengapresiasi acara Business Matching sebagai upaya mendekatkan pendidikan vokasi dengan industri. Penyiapan SDM yang unggul sangat berpengaruh terhadap bonus demografi.
“Saya berharap perguruan tinggi dan industri menjadi mitra utama dalam mengembangkan keunggulan daerah. Selain itu, Jawa Tengah juga memiliki perda yang mengatur tentang inovasi daerah,” kata Sujarwanto.
Untuk meramaikan Business Matching 2024, berbagai inovasi dari sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi vokasi (PTV) di Jawa Tengah dipamerkan. Sebanyak 190 peserta dari 21 SMK dan 8 PTV memamerkan produk-produk inovasi mereka.
Salah satu SMK yang menonjol dalam pameran tersebut adalah SMKN 5 Sukoharjo, Jawa Tengah. SMK ini memamerkan proyek-proyek seperti trainer mobil listrik dan sepeda motor listrik dari Konsentrasi Keahlian Teknik Otomotif dan Elektronika. Selain itu, terdapat juga rakitan komputer all-in, laptop, dan smart TV hasil karya siswa dari Konsentrasi Keahlian Teknik Komputer Jaringan. “Ajang ini menambah semangat siswa. Mereka belajar memasarkan produknya saat bertemu dengan industri,” ungkap Waluyo, guru Program Keahlian Ototronik.
Waluyo menjelaskan bahwa karya trainer mobil dan sepeda listrik sangat ramah lingkungan karena tidak memerlukan bahan bakar minyak. Pengisian baterai pun bisa menggunakan listrik PLN rumahan dan kecepatannya memenuhi ketentuan pemerintah.
Selain pameran, terdapat sesi talk show mengenai Program Penguatan Ekosistem Kemitraan. Salah satu narasumber, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur SMK, Wardani Sugiyanto, menilai bahwa karya siswa SMK mampu memenuhi kebutuhan industri.
“Industri dapat melihat di pameran bahwa karya-karya SMK juga sangat baik, dan kami membuka kolaborasi dengan industri, salah satunya melalui pengembangan teaching factory (Tefa),” ungkap Wardani.
Wardani berpesan agar semua pemangku kepentingan dapat mengedepankan potensi daerah. Sebagai lembaga pendidikan vokasi, SMK memiliki peran penting dalam mempersiapkan SDM yang siap menghadapi tantangan industri.
Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya fokus pada teori tetapi juga pada praktik nyata yang relevan dengan industri. Dengan adanya Business Matching, tercipta hubungan yang erat antara dunia pendidikan dan dunia industri, yang pada akhirnya dapat mempercepat kemajuan ekonomi lokal dan nasional. Pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan industri akan menghasilkan SDM yang siap kerja, mengurangi pengangguran, dan mendorong inovasi lokal. Dukungan pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan keberhasilan program seperti ini, yang dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.



