Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Gorontalo semakin menunjukkan keseriusannya dalam mengangkat wastra khas daerah, kain Karawo, agar tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern dan produk kreatif yang mampu menembus pasar global.
“Kita berkomitmen menggaungkan Karawo hingga mendunia. Dekranasda akan terus mendampingi para perajin, memperkuat kualitas produk, serta membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo, Nani Ismail Mokodongan, dalam acara Indonesia Berkarawo di Grand Palace Convention Center, Kota Gorontalo, Minggu (28/9/2025).
Ajang tersebut menjadi simbol transformasi besar: dari kain tradisional yang dulu hanya digunakan pada acara adat, menjadi ikon fesyen dan desain modern yang kini siap bersaing di kancah nasional bahkan internasional.
Secara harfiah, kata Karawo berarti “sulaman” dalam bahasa Gorontalo. Namun di balik makna sederhana itu, tersimpan sejarah panjang dan nilai budaya yang kuat. Seperti dicatat dalam the textilemap, tradisi menyulam Karawo telah diwariskan secara turun-temurun oleh perempuan Gorontalo sejak abad ke-17—menjadi bukti ketekunan, kesabaran, dan kreativitas yang melekat dalam identitas masyarakatnya.
Menariknya, tradisi ini sempat hampir punah. Pada tahun 1889, pemerintah kolonial Belanda sempat berusaha menghapus praktik mokarawo (proses menyulam Karawo). Namun para perempuan Gorontalo tidak tinggal diam—mereka melanjutkan tradisi ini secara diam-diam, menjaganya agar tetap hidup. Hingga akhirnya, di tahun 1960, Karawo kembali diperjualbelikan secara terbuka, menjadi simbol perlawanan dan kebangkitan budaya lokal.
Kini, kain Karawo hadir dalam dua bentuk utama: Karawo Manila dan Karawo Ikat. Keduanya berbeda dalam teknik dan fungsi. Karawo Manila menggunakan teknik sulam, cocok untuk bahan busana elegan, sementara Karawo Ikat lebih menonjolkan teknik ikat untuk produk dekoratif seperti taplak meja atau sarung bantal.
Proses pembuatannya pun tidak sederhana—bisa memakan waktu hingga sebulan penuh tergantung pada luas dan kompleksitas pola. Pembuatan Karawo biasanya melibatkan tiga pengrajin dengan peran yang berbeda: satu membuat pola di kertas, satu mengurai benang pada kain, dan satu lagi melakukan penyulaman. Kolaborasi ini bukan sekadar kerja tangan, melainkan kerja hati dan kesabaran.
Tahapan pembuatannya pun sarat teknik. Pengrajin harus memilih kain dengan serat lungsin dan pakan yang jelas seperti linen, katun Jepang, atau sifon agar proses cabut benang berjalan sempurna. Proses inilah yang menjadi jantung keunikan Karawo—benang-benang halus diurai satu per satu untuk membentuk pola, kemudian disulam kembali menjadi motif indah dengan teknik grid atau cross stitch.
Setiap tahapan adalah bentuk meditasi dalam karya. Setelah benang diiris dan dicabut, pengrajin mulai mengisi pola menggunakan teknik sulam atau ikat. Untuk Karawo Manila, pola diisi terlebih dahulu baru diikat bagian kosongnya; sebaliknya, pada Karawo Ikat, bagian tertentu diikat lebih dulu sebelum diisi sulaman. Agar hasilnya sempurna, proses ini dibantu alat widangan—sebuah pembidangan berbentuk lingkaran yang menegangkan kain agar mudah disulam dari segala arah.
Namun keindahan Karawo tidak hanya terletak pada kerumitan tekniknya, tetapi juga pada makna filosofis yang tertanam dalam setiap motifnya. Setiap sulaman mengandung pesan moral dan nilai kehidupan. Misalnya, motif pohon pinang melambangkan kejujuran, mahkota berarti kebergunaan bagi orang lain, tali simpul menggambarkan persaudaraan, sedangkan motif janur merepresentasikan pemimpin yang mencintai rakyat.
Keberagaman motif ini menunjukkan betapa kaya simbolisme budaya Gorontalo—menyatukan nilai spiritual, sosial, dan estetika dalam satu helai kain.
Kini, tantangan bagi Dekranasda dan para perajin bukan hanya melestarikan teknik tradisional, tetapi juga membawa Karawo masuk ke pasar modern tanpa kehilangan jati dirinya. Pendekatan desain kontemporer, kolaborasi dengan desainer muda, hingga digitalisasi promosi menjadi langkah penting agar Karawo bisa bersaing di tengah gempuran produk tekstil massal.
Dengan strategi yang terarah, Karawo berpotensi menjadi ikon global seperti batik dan tenun ikat. Kain ini bukan hanya wujud keindahan tekstil, tetapi juga kisah tentang ketahanan budaya, kecerdasan perempuan, dan identitas lokal yang tak lekang oleh waktu.
Jika dahulu Karawo lahir dari ruang-ruang sunyi para penyulam di desa, maka kini ia bersiap menapaki panggung dunia—mewakili Gorontalo dan Indonesia dalam bahasa universal: keindahan, ketekunan, dan kebanggaan.



