SMPN 1 Bogor benar-benar serius menghidupkan budaya literasi. Setiap hari Rabu, pada jam pertama sampai kedua, suasana sekolah berubah jadi ruang kreatif. Anak-anak tidak hanya diminta membaca, tapi juga menulis, berkreasi, bahkan menghasilkan karya buku. Jadi, literasi di sini bukan sekadar rutinitas, tapi sudah jadi tradisi yang membentuk karakter sekaligus kreativitas siswa.
Kepala SMPN 1 Bogor, Estiza Septiana, menjelaskan, “Anak-anak diarahkan bukan hanya membaca, tapi juga menghasilkan karya. Mereka menulis puisi, pantun, sampai tulisan lain yang akhirnya dibukukan. Guru juga tidak kalah—mereka ikut menulis dan karya itu sudah terbit.” Jadi, semua pihak, baik siswa maupun guru, sama-sama tumbuh lewat literasi.
Menariknya, buku-buku karya ini bukan hanya punya nilai akademis, tapi juga ekonomis. Sekolah memfasilitasi agar karya tersebut bisa dipublikasikan dan bahkan ditawarkan ke orang tua maupun masyarakat. Hasilnya? Ada nilai tambah nyata—anak-anak merasa karyanya dihargai, guru lebih termotivasi, dan masyarakat bisa ikut menikmati buah kreativitas itu. Kalau dipikir-pikir, ini model pembelajaran yang win-win: anak dan guru sama-sama berkembang, masyarakat pun ikut merasakan manfaatnya.
Produk literasi siswa paling banyak berupa kumpulan pantun dari tiap kelas yang kemudian dijilid jadi satu buku. Sementara itu, para guru menuangkan pengalaman dan inovasi pembelajaran dalam bentuk buku praktik baik (best practice). Artinya, literasi bukan cuma memunculkan karya seni, tapi juga jadi media berbagi ilmu dan inspirasi.
Estiza menegaskan bahwa literasi di SMPN 1 Bogor punya dampak ganda. Anak-anak jadi lebih percaya diri dan kreatif, sementara guru terdorong untuk terus berinovasi. “Yang berkembang bukan hanya anak, guru juga harus ikut maju. Guru-guru di SMPN 1 Bogor itu kompetitif, inovatif, dan saling menginspirasi. Tinggal digerakkan, hasilnya langsung terlihat,” jelasnya.
Gerakan ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah lewat program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang menekankan pendidikan berkarakter, kreatif, inovatif, dan humanis. Jadi, literasi di SMPN 1 Bogor bukan sekadar kegiatan rutin tiap minggu, melainkan ruang tumbuh yang membentuk generasi mandiri, peduli, unggul, dan siap bersaing.
“Alhamdulillah, lewat gerakan literasi ini, siswa maupun guru di SMPN 1 Bogor bisa menghadirkan karya yang tidak hanya dibaca di sekolah, tapi juga dibagikan ke masyarakat. Inilah bukti bahwa sekolah adalah ekosistem pembelajaran yang benar-benar hidup,” pungkas Estiza.



