Banyuwangi, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Jawa, memang kaya akan keindahan alam yang memukau. Salah satu pesonanya yang sudah mendunia adalah Taman Nasional Alas Purwo, terkenal dengan Pantai Plengkung yang memiliki ombak besar dan menjadi magnet bagi turis mancanegara. Tak kalah ikonik, ada Taman Nasional Baluran yang sering disebut sebagai “Little Africa from Java” karena lanskapnya yang menyerupai padang savana di Afrika, nyaris kering sepanjang tahun.
Tak hanya itu, wisata kawah vulkanik Gunung Ijen juga menjadi daya tarik utama. Dengan ketinggian 2.779 meter di atas permukaan laut, kawah ini menjadi rumah bagi danau air asam terbesar di dunia yang memiliki kedalaman 200 meter dan luas 5.466 hektare. Keajaiban alam lainnya yang hanya bisa disaksikan di tempat ini adalah fenomena blue fire, cahaya biru yang memancar dari dasar kawah dan hanya terlihat pada dini hari saat gelap.
Namun, Banyuwangi tidak berhenti sampai di situ. Ada sebuah destinasi yang belakangan ini semakin mencuri perhatian wisatawan, yaitu hutan wisata De Djawatan di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Dengan luas sekitar 4 hektare, kawasan ini dikelola oleh Perum Perhutani Banyuwangi Selatan dan telah resmi menjadi bagian dari daftar objek wisata Dinas Pariwisata sejak Juni 2018. Daya tarik utamanya adalah pohon-pohon trembesi raksasa yang tumbuh subur dengan tinggi mencapai 25-30 meter. Pohon-pohon ini, dengan dahannya yang meliuk-liuk membentuk kanopi alami, memberikan nuansa sejuk dan teduh.
Menariknya, pohon trembesi yang dikenal sebagai pohon hujan ini ternyata berasal dari Amerika Selatan. Keunikannya terletak pada kemampuannya menyerap air dalam jumlah besar, menciptakan lingkungan yang lembab dan nyaman bagi tumbuhan epifit seperti paku-pakuan. Tak hanya itu, rumput liar pun tumbuh subur di sekitar akar-akar besarnya, menambah kesan alami kawasan ini.
Keindahan De Djawatan semakin terasa ketika sinar matahari menyusup di antara celah-celah dahan dan dedaunan, menciptakan siluet cahaya yang memikat. Banyak pengunjung yang membandingkan hutan ini dengan latar film The Lord of the Rings, terutama adegan di Rivendell atau Mirkwood. Viral di media sosial sejak 2017, pesona De Djawatan kini kian dikenal luas sebagai tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus ketenangan.
Sejak itu, kawasan ini mengalami banyak perbaikan. Jalan setapak diperluas, pohon-pohon raksasa dipagari untuk melindungi kelestariannya, dan fasilitas umum seperti toilet, musala, hingga bangku kayu pun ditambahkan. Pengunjung juga bisa menikmati pengalaman naik delman sambil menyusuri hutan, atau sekadar duduk-duduk di bawah teduhnya pepohonan sambil berfoto.
Dulu, sebelum dikenal sebagai objek wisata, masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai Tapel Pelas, sebuah lokasi penimbunan kayu sejak era kolonial Belanda. Setelah fungsi tersebut dipindahkan ke lokasi lain, tempat ini sempat sepi aktivitas hingga akhirnya diubah menjadi destinasi wisata. Kini, De Djawatan mampu menarik hingga 300 pengunjung per hari, dan angka ini meningkat hingga 1.000 orang saat akhir pekan.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, perjalanan ke De Djawatan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau umum. Dari pusat kota Banyuwangi, lokasi ini berjarak sekitar 45 kilometer dan dapat dicapai dalam waktu kurang dari satu jam. Namun, pastikan untuk memanfaatkan navigasi digital agar tidak tersesat, karena papan petunjuk jalan menuju kawasan ini terbilang kecil. Sebagai patokan, Masjid Jami Al-Falah Benculuk yang berada di persimpangan jalan sering dijadikan titik orientasi.
Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, hanya Rp5.000 per orang, serta suasana hutan yang asri, De Djawatan menjadi pilihan tepat untuk melepas penat. Meskipun sederhana, tempat ini menawarkan pengalaman berwisata yang memadukan keindahan alam dan sejarah. Kawasan ini adalah bukti nyata bahwa Banyuwangi selalu punya cara untuk memikat hati para pelancong.



