Di tengah kota Medan, Sumatra Utara, malam itu Jalan KH Zainul Arifin berubah meriah oleh alunan musik khas Asia Selatan. Melodi sitar, veena, tambura, dan sarod mengalun selaras dengan tabuhan tabla yang dimainkan dari pelantang suara berwarna biru muda buatan Jepang. Harmonisasi ini menciptakan atmosfer hangat dan menghidupkan suasana malam di jantung ibu kota Sumatra Utara.
Suara musik tersebut mengiringi arak-arakan kereta berhias yang di puncaknya terdapat altar mini dengan patung dewi Lakshmi, simbol kemakmuran dan kemenangan. Sekitar sepuluh kereta, bersinar terang dengan hiasan lampu-lampu, berbaris sepanjang Jalan KH Zainul Arifin hingga Jalan Gajah Mada, membawa perayaan Diwali atau Deepavali yang penuh cahaya. Orang-orang di sekitarnya bersukacita, mengenakan pakaian khas India—para wanita dewasa mengenakan sari, anak-anak memakai punjabi, sementara para pria mengenakan dhoti yang mirip gamis.
Perayaan Diwali yang jatuh pada 1 November 2024 itu bukan sekadar seremoni biasa bagi komunitas India di Kampung Madras, Medan. Diwali lebih dikenal sebagai “festival cahaya,” lambang kemenangan kebaikan atas kejahatan. Bagi umat Hindu, festival ini mengingatkan pada epos Ramayana, di mana kemenangan Rama atas Rahwana melambangkan terang yang mengalahkan gelap. Cahaya dalam Diwali memiliki makna simbolis sebagai pencerahan, kebijaksanaan, dan kejujuran, sementara kegelapan merepresentasikan sifat negatif seperti iri hati, serakah, dan ketidakadilan.
Menurut catatan sejarah, Diwali sudah dirayakan lebih dari 2.500 tahun lalu, dan setiap tahunnya komunitas India di Kampung Madras juga ikut menyemarakkan momen ini. Selama lima hari berturut-turut, mereka menjalani berbagai ritual seperti membersihkan rumah, menghias jalan, pergi ke kuil, hingga menyalakan lampu di sekeliling tempat tinggal. Di sepanjang Jalan KH Zainul Arifin, puluhan tenda berdiri, menyajikan aneka kuliner khas Asia Selatan yang menggugah selera seperti ayam tandoori, nasi biryani, hingga samosa dan masala, membawa aroma rempah yang khas dan menggoda.
Kampung Madras, Pusat Budaya India di Medan
Kampung Madras bukan hanya dikenal di Medan, tetapi juga di mancanegara. Kawasan ini sudah lama menjadi pusat pemukiman masyarakat India di Nusantara, dengan luas sekitar 10 hektare yang terletak di antara Kecamatan Polonia dan Kecamatan Petisah. Di sini, para pengunjung bisa menemukan gapura kuning besar bertuliskan “Welcome to Little India,” dihiasi ukiran burung merak yang indah, menjadi penanda utama memasuki kawasan yang dihuni sekitar 100 kepala keluarga keturunan India.
Sejarah panjang komunitas India di Medan ini bermula pada tahun 1873, ketika imigran Tamil datang ke Sumatra Timur (sekarang Sumatra Utara) sebagai pekerja di kebun tembakau Deli. Sultan Deli Mahmud Al Rasyid kala itu memberikan izin bagi mereka untuk menetap dan membangun komunitas, yang kemudian berkembang hingga saat ini. Nama “Kampung Madras” pun dipilih pada 2008, menggantikan nama sebelumnya, “Kampung Keling,” yang dianggap kurang nyaman karena memiliki konotasi kurang positif.
Kampung Madras: Contoh Toleransi Beragama yang Harmonis
Di Kampung Madras, toleransi antarumat beragama telah lama terjaga. Meskipun mayoritas penduduknya menganut agama Hindu dan Sikh, ada pula yang beragama Islam. Bahkan, berbagai tempat ibadah seperti kuil Shri Mariamman, gurdwara, dan Masjid Ghaudiyah berdiri berdekatan, menunjukkan keharmonisan yang nyata. Ketika umat Hindu dan Sikh merayakan Diwali, warga Muslim ikut serta dalam perayaan tersebut, begitu pula sebaliknya saat Idulfitri dan Iduladha dirayakan, seluruh komunitas bergotong royong memeriahkannya.
Inilah yang membuat Kampung Madras menjadi contoh hidup dari toleransi dan harmonisasi budaya yang langka. Masyarakat dari berbagai etnis, termasuk Tionghoa dan Melayu, merasa nyaman dan diterima di lingkungan ini, menambah keragaman warna dari Kampung Madras sebagai pusat budaya dan simbol persatuan.



