Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, memberikan kabar menggembirakan kepada Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI): permintaan susu lokal akan melonjak drastis pada 2025 seiring peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menargetkan 15 juta penerima manfaat dan memerlukan pasokan hingga 3 juta liter susu segar per hari, jauh melampaui kapasitas produksi nasional saat ini yang hanya mencapai 1,23 juta liter per hari.
“Ini adalah peluang besar bagi peternak dan koperasi susu. Tantangan utamanya adalah meningkatkan produksi agar bisa memenuhi kebutuhan yang besar ini,” kata Budi Arie, Jumat (15/11/2024).
Kesempatan untuk Kebangkitan Koperasi Susu
Pemerintah berkomitmen penuh menyerap hasil produksi susu lokal, khususnya dari koperasi. Namun, menurut Budi, selain meningkatkan kuantitas, kualitas susu juga harus diprioritaskan agar produk dalam negeri tetap kompetitif di pasar. “Kualitas susu harus terjaga. Ini bukan hanya soal volume, tetapi juga menjaga kepercayaan konsumen,” tambahnya.
Dalam konteks ini, koperasi susu perlu melangkah lebih jauh dengan memperluas cakupan produk hilir seperti keju, yogurt, atau mozarella. “Produk olahan ini memiliki nilai tambah tinggi dan bisa meningkatkan kesejahteraan peternak serta anggota koperasi,” ujar Budi, seraya mendorong inovasi dari GKSI untuk menjawab peluang besar ini.
Tantangan: Populasi Sapi dan Regenerasi Peternak
Namun, jalan menuju kebangkitan ini tidaklah mudah. Salah satu kendala terbesar adalah penurunan populasi sapi perah akibat wabah PMK, dari 239.196 ekor sebelum wabah menjadi 214.878 ekor saat ini. Untuk itu, Budi menegaskan pentingnya kolaborasi dengan peternak dalam meningkatkan populasi sapi perah.
Masalah lain adalah rendahnya regenerasi peternak. Menurut Sekretaris GKSI, Unang Sudarma, banyak anak muda lebih memilih sektor formal dibanding melanjutkan usaha peternakan keluarga. Hal ini berdampak pada berkurangnya tenaga kerja di industri sapi perah. “Tanpa regenerasi, sulit bagi kita untuk meningkatkan produktivitas,” ungkap Unang.
Selain itu, distribusi susu juga menjadi tantangan serius karena memerlukan penyimpanan di suhu dingin (4°C) untuk menjaga kesegaran. Hal ini menambah biaya logistik yang perlu ditanggung peternak dan koperasi.
Momentum Kemandirian Susu Nasional
Meski tantangan besar dihadapi, Budi tetap optimis. Ia meyakini bahwa program MBG bukan hanya sekadar menyediakan susu bagi masyarakat, tetapi juga menjadi pendorong bagi kemandirian industri susu nasional. “Ini momen bagi kita untuk lepas dari ketergantungan impor. Dengan kerja sama yang baik, saya yakin industri susu lokal bisa bangkit,” tegasnya.
Membangun Masa Depan Industri Susu
Koperasi susu memiliki peran vital dalam mendorong keberhasilan program ini. Dengan inovasi, hilirisasi, dan dukungan dari pemerintah, industri susu Indonesia berpotensi menjadi lebih kompetitif dan berkelanjutan. Program MBG adalah kesempatan emas untuk memperkuat koperasi, memberdayakan peternak, dan membawa kesejahteraan bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor ini.
Sinergi antara pemerintah, peternak, dan koperasi akan menjadi kunci bagi kebangkitan ini. Kini, saatnya semua pihak bergerak bersama demi masa depan industri susu Indonesia yang lebih cerah.



