Di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi dan media sosial, serta teknologi yang semakin canggih, korporasi dan perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan untuk berkolaborasi dalam merespons kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Komunikasi kini memegang peran krusial dalam memperkuat reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Hal ini menjadi latar belakang penandatanganan Nota Kesepahaman antara Universitas Mulawarman dengan International Association of Business Communicators (IABC Indonesia), VMCS Advisory, dan NoLimit Indonesia. Acara ini digelar di Teater Universitas Mulawarman dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting.
Nota Kesepahaman yang meliputi Tri Dharma Perguruan Tinggi ini ditandatangani oleh perwakilan Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Ir. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., yang diwakili oleh Wakil Rektor 4, Dr. Ir. Nataniel Dengen, S.Si., M.Si.; Presiden IABC Indonesia sekaligus CEO VMCS Advisory, Elvera N. Makki, S.IP., MBA., ABC, SCMP; serta CEO NoLimit Indonesia, Dr. Aqsath R. Naradhipa.
Langkah ini dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Agreement (IA) dengan lima fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Ekonomi dan Bisnis, Hukum, Ilmu Budaya, serta Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Acara tersebut dihadiri oleh 170 mahasiswa yang menyaksikan langsung bagaimana kolaborasi antara akademisi dan industri menjadi pijakan penting dalam membangun masa depan pendidikan di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor 4 Universitas Mulawarman, Dr. Nataniel Dengen, menyatakan pentingnya kerja sama ini sebagai awal untuk menjalin komunikasi lebih erat antara lembaga pendidikan tinggi dan praktisi lintas industri. “Ini langkah awal yang vital untuk mendorong inovasi yang akan sangat dibutuhkan dalam mencapai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 serta visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam aspek sumber daya manusia yang unggul,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc., Ph.D, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara, memberikan update tentang perkembangan terbaru pembangunan Nusantara, yang memancing banyak perhatian dari para peserta seminar.
Sementara itu, Elvera N. Makki menyoroti pentingnya “campus branding” di era digital. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu mengelola reputasi mereka dengan baik di tengah tuntutan transparansi dan komunikasi aktif melalui media sosial. “Reputasi bukan hanya soal kampus saja, tetapi juga mahasiswa. Prestasi akademis, keterlibatan sosial, serta partisipasi dalam konferensi internasional semuanya berkontribusi terhadap reputasi kampus di mata dunia,” paparnya. Dalam dunia yang semakin terbuka, reputasi bisa memengaruhi peringkat universitas dan bahkan menarik minat calon mahasiswa serta mitra global.
Dr. Aqsath R. Naradhipa menambahkan perspektif dari sudut teknologi, membahas bagaimana algoritma, machine learning, dan kecerdasan buatan (AI) bisa membantu analisis data akademik untuk meningkatkan akurasi penelitian. “Pemanfaatan big data kini semakin luas, bukan hanya di dunia bisnis, tetapi juga di perguruan tinggi. Ini memungkinkan akademisi mendapatkan data real-time dalam jumlah besar, memetakan tren, dan membuat prediksi yang lebih akurat,” jelas Aqsath. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan big data bagi para akademisi agar dapat memanfaatkan teknologi ini dengan optimal.
Dr. Catur Suratnoaji, M.Si., Dekan FISIP UPN Veteran Jawa Timur, menegaskan pentingnya pemahaman terhadap media sosial dalam membangun reputasi. “Di era digital, reputasi organisasi, bahkan negara, sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka dikelola di media sosial,” ungkapnya, merujuk pada pentingnya strategi komunikasi yang efektif.
Acara ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan. Para pembicara pun memberikan tanggapan inspiratif, mendorong para mahasiswa untuk lebih proaktif dalam mengasah keterampilan dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa. “Kami berharap acara ini memberikan wawasan baru bagi para peserta, terutama generasi muda, untuk lebih berperan aktif dalam pembangunan di tingkat lokal maupun nasional,” ujar Elvera menutup seminar tersebut.
Seminar ini menjadi bukti betapa pentingnya kolaborasi antara pendidikan, teknologi, dan industri dalam mencetak generasi masa depan yang siap bersaing di era digital.



