Pendidikan karakter telah menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi unggul yang siap menghadapi masa depan. Di tengah perkembangan pesat teknologi dan pasar global yang semakin terbuka, setiap bangsa perlu memperkuat identitas dan nilai-nilai budaya mereka. Ki Hajar Dewantara, salah satu tokoh pendidikan nasional, pernah menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia harus berlandaskan pada kebudayaan bangsa, mengarah pada kebahagiaan batin serta keselamatan hidup yang lebih baik. Prinsip ini masih relevan hingga kini, menjadi dasar bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, yang saat ini tengah berusaha mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di Asia Tenggara dalam hal kualitas pendidikan.
Meskipun peringkat Indonesia dalam sistem pendidikan global masih di bawah negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan, baik dari segi pengetahuan, pengembangan pendidikan vokasi, hingga penguatan pendidikan karakter. Salah satu program unggulan yang digulirkan adalah Merdeka Belajar, yang bertujuan membentuk anak-anak Indonesia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme, ketahanan mental, serta kepatuhan terhadap agama. Pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berkomitmen untuk memperkuat pembangunan SDM sebagai bagian dari agenda besar mereka.
Visi besar ini mengarah pada penguatan pendidikan di berbagai jenjang, dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan menengah atas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru-baru ini meluncurkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang diharapkan dapat menjadi pilar bagi generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berkarakter unggul. Gerakan ini menekankan tujuh kebiasaan positif yang penting diterapkan sejak dini, seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, berinteraksi dengan masyarakat, dan tidur cepat. Dengan mempraktikkan kebiasaan-kebiasaan ini, diharapkan anak-anak Indonesia tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kepedulian sosial yang tinggi, serta rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Menurutnya, tujuh kebiasaan yang diusung dalam gerakan ini mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia yang telah mengakar kuat. Kebiasaan seperti bangun pagi, beribadah, dan bermasyarakat bukan hanya membantu membentuk individu yang kuat, tetapi juga membentuk generasi yang peduli terhadap sesama. Gerakan ini menyasar anak-anak mulai dari tingkat PAUD hingga SMA, dan menjadi bagian dari agenda nasional untuk membentuk generasi emas Indonesia pada tahun 2045.
Selain itu, untuk memperkuat semangat kebersamaan, Kemendikdasmen juga memperkenalkan Gerakan Senam Indonesia Hebat, yang diharapkan dapat menjadi pembuka hari yang positif bagi siswa sebelum memasuki pembelajaran. Gerakan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit setiap pagi dan dirancang untuk menanamkan semangat positif serta kebersamaan dalam diri anak-anak. Mendikdasmen juga mengungkapkan bahwa untuk mendukung implementasi program ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian telah mengeluarkan surat edaran yang mendorong pembentukan ruang bermain bersama di lingkungan masyarakat, memungkinkan anak-anak bersosialisasi dengan teman-teman mereka setelah sekolah.
Program ini akan diterapkan di seluruh satuan pendidikan mulai tahun 2025, dengan panduan penerapan yang dapat diunduh oleh guru, tenaga pendidik, dan orangtua. Panduan tersebut mencakup cara praktis dalam menerapkan tujuh kebiasaan tersebut, misalnya manfaat dari kebiasaan bangun pagi, serta bagaimana peran orangtua dan guru dalam menanamkan kebiasaan tersebut pada anak-anak dari tingkat SD hingga SMA. Keberhasilan dari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, serta organisasi masyarakat. Dukungan dari sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan perlindungan anak sangat penting untuk memastikan gerakan ini berjalan efektif.
Suharti, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, menekankan pentingnya pendekatan yang terintegrasi untuk memastikan keberhasilan program ini. Membangun generasi emas Indonesia memerlukan dukungan dari seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga media. Sinergi antara semua elemen ini akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, peduli terhadap sesama, dan siap menghadapi tantangan masa depan.



