Komunitas Kajang memiliki prinsip hidup yang sangat unik, yaitu Tallas Kamase-masea, yang berarti menjalani kehidupan dengan kesederhanaan dan jauh dari kemewahan. Prinsip ini tercermin dari gaya hidup mereka yang penuh kesungguhan dalam mempraktikkan nilai-nilai tradisional dan menutup diri dari modernisasi. Di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, komunitas ini hidup tanpa aliran listrik, mengenakan pakaian serba hitam, dan tidak menggunakan alas kaki. Mereka bahkan tidak mengenal hierarki sosial, sehingga semua hunian terlihat seragam, meskipun ada rumah khusus untuk ammatoa atau pemimpin adat tertinggi.
Ammatoa diangkat bukan berdasarkan garis keturunan, melainkan melalui proses ritual di hutan keramat yang diyakini dipilih langsung oleh Tuhan. Jabatan ini dipegang seumur hidup, mencerminkan kepercayaan masyarakat bahwa seorang pemimpin haruslah seseorang yang benar-benar suci. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kajang menjaga keseimbangan antara adat, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif yang lebih luas, tradisi ini juga memperlihatkan betapa pentingnya penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang mampu menjaga harmoni sosial.
Salah satu tradisi adat Kajang yang menarik perhatian adalah ritual andingingi. Ritual tahunan ini bertujuan memohon keselamatan dan keberkahan dalam mengelola sumber daya alam, sekaligus diyakini dapat mendatangkan hujan untuk mendukung pertanian. Pada 2024, ritual ini menjadi bagian dari Festival Pinisi ke-14, yang diselenggarakan di Kawasan Hutan Adat Kajang. Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menekankan pentingnya pelestarian tradisi ini sebagai salah satu warisan budaya asli yang perlu terus dipromosikan hingga masuk dalam kalender event nasional. Komitmen ini menjadi langkah strategis untuk tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata budaya di wilayah tersebut.
Prosesi andingingi penuh dengan simbolisme yang sarat makna. Dimulai dengan penghormatan kepada ammatoa, para peserta mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap adat. Mereka juga disuguhi tuak, minuman tradisional yang melambangkan keberkahan. Dalam prosesi palenteng ere, air suci dipercikkan ke delapan penjuru mata angin menggunakan tangkai pinang yang dihiasi dedaunan dari 40 jenis kayu, simbol dari keberkahan dan perlindungan terhadap alam. Ritual ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kajang menjaga hubungan harmonis dengan alam, menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan adalah bagian integral dari kehidupan mereka.
Dalam ritual ini juga ada pemberian bedak cair yang terbuat dari campuran tepung beras dan kunyit. Ini melambangkan kejernihan pikiran dan kejujuran, nilai-nilai penting yang menjadi dasar harmoni dalam masyarakat. Berbagai bahan sesajen, seperti beras hitam, beras putih, beras merah, dan pisang khas, digunakan untuk menyimbolkan identitas budaya, keadilan, dan semangat perjuangan. Ritual diakhiri dengan makan bersama sebagai doa untuk kemakmuran dan keberkahan, yang juga menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dan kebersamaan.
Ritual andingingi adalah bukti nyata bagaimana tradisi dapat menjadi jembatan antara manusia, alam, dan budaya. Kehadiran pemerintah bersama masyarakat dalam pelaksanaan ritual ini memperlihatkan dukungan nyata untuk menjaga warisan leluhur. Akademisi seperti Profesor Yusran Jusuf menilai tradisi ini sebagai cerminan harmoni yang sempurna antara manusia dan alam, sebuah pelajaran penting bagi masyarakat modern. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya lokal bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan kedamaian dan keseimbangan.
Dengan keunikan dan kekayaan filosofinya, ritual andingingi semakin mengukuhkan Bulukumba sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan keindahan bahari, tetapi juga budaya yang mendalam. Tradisi ini mengajarkan kepada dunia tentang pentingnya menjaga harmoni dengan alam dan warisan leluhur, sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi mendatang untuk melanjutkan nilai-nilai luhur ini dalam menghadapi tantangan modernisasi.



