Makassar International Eight Festival & Forum (F8 Makassar) Siap Digelar Lagi dengan Target 600 Ribu Pengunjung dan Transaksi Rp30 Miliar
Kementerian Perindustrian sedang gencar meningkatkan keterampilan para pelaku industri fesyen, terutama para perajin batik, di tengah gempuran produk fesyen impor dan batik printing yang murah. Kemenperin juga mendampingi industri batik dalam negeri agar bisa beradaptasi dan menguasai pasar dalam negeri maupun internasional, terutama di segmen pasar anak muda seperti generasi milenial dan generasi Z yang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang beragam.
Kementerian Perindustrian sedang gencar meningkatkan keterampilan para pelaku industri fesyen, terutama para perajin batik, di tengah gempuran produk fesyen impor dan batik printing yang murah. Kemenperin juga mendampingi industri batik dalam negeri agar bisa beradaptasi dan menguasai pasar dalam negeri maupun internasional, terutama di segmen pasar anak muda seperti generasi milenial dan generasi Z yang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang beragam.
“Karena itu, kami terus menggaungkan pentingnya pengenalan teknik fesyen yang berkelanjutan, salah satunya dengan memanfaatkan pewarna alam untuk industri batik,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, di Jakarta, Selasa (16/7).
Menurut Reni, pelaku IKM batik harus semakin adaptif tanpa mengesampingkan pakem sejarah pembuatannya dan dampak yang ditimbulkan. “Sekarang adalah era untuk lebih memaksimalkan penggunaan pewarna alam yang bisa memberikan nilai tambah pada batik, sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan,” tambahnya.
Ditjen IKMA terus mendorong para pelaku IKM fesyen, termasuk IKM batik, untuk beralih ke konsep fesyen yang inklusif dan berkelanjutan (sustainable fashion). Konsep ini mengedepankan nilai-nilai dari seluruh aspek atau pihak yang terlibat dalam industri tersebut, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
“Dengan mengedepankan konsep berkelanjutan tersebut, industri batik dapat lebih bertahan dan melawan arus tren industri fesyen yang serba cepat dan menyumbang banyak limbah,” imbuh Reni. Selain itu, konsep ini memberikan nilai tambah dan citra produk seiring dengan meningkatnya green lifestyle dan green consumerism.
Reni juga menyampaikan bahwa perkembangan gaya hidup sehat dan tren penggunaan produk yang ramah lingkungan semakin digandrungi oleh generasi muda, khususnya generasi milenial dan generasi Z. “Berbagai gaya hidup sehat, aktivitas olahraga, dan kesadaran akan kelestarian lingkungan telah menjadi budaya generasi muda yang harus diperhatikan oleh para pelaku industri,” tuturnya.
Dalam konteks industri batik, konsep tersebut bisa diterapkan di berbagai rantai pasok, misalnya di sektor produksi (hulu) dengan menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, serta di sektor hilir dengan memanfaatkan limbah sisa produksi fesyen.
“Kami terus mengenalkan industri batik yang ramah lingkungan kepada IKM batik binaan Ditjen IKMA, sehingga dapat menekan jumlah limbah padat dan cair dari industri pakaian dan tekstil,” ujar Reni.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pada 13-17 Juli 2024, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) menggelar Program Pendampingan Teknis Produksi Pewarnaan Alam di Sentra IKM Batik Tasikmalaya, tepatnya di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan Kota Tasikmalaya.
Acara ini juga merupakan bagian dari kegiatan yang diadakan untuk menyambut Hari Batik Nasional yang digagas dan dilaksanakan bersama YBI. Sebanyak 25 peserta perajin batik diberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai teknik pewarnaan alam, sekaligus cara pemasaran batik.
“Para perajin batik harus menyadari bahwa zat kimia yang selama ini mereka gunakan bisa menghasilkan limbah yang harus diolah ulang dengan biaya tinggi. Maka dari itu, kami memperkenalkan zat warna alam seperti dari daun atau kulit pohon jati, daun indigo, kulit pohon mangga, dan sebagainya,” jelas Reni.
Reni menambahkan, penggunaan warna alam di industri batik membutuhkan waktu produksi yang lebih panjang. Tantangan terbesarnya adalah mencatat hasil warna yang dihasilkan dari komposisi bahan baku yang tepat. “Inilah tantangannya, bagaimana bisa memformulasikan berbagai level warna dari bahan baku alam,” ujarnya.
Dengan langkah ini, diharapkan industri batik Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah maraknya produk impor tetapi juga menjadi lebih kompetitif di pasar global. Penggunaan pewarna alam tidak hanya menambah nilai estetika dan historis pada batik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Generasi muda yang kini lebih peduli dengan isu-isu lingkungan akan semakin tertarik pada produk batik yang ramah lingkungan. Inovasi ini diharapkan bisa menjadi tren baru yang mendukung keberlanjutan industri batik sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia.



