Kehe Daing: Pesona Laguna Tersembunyi di Kakaban

Indonesia memang kaya akan destinasi alam yang menakjubkan, dan salah satu keindahan yang patut dijelajahi adalah Kehe Daing di Pulau Kakaban, bagian dari gugusan Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau tak berpenghuni seluas 774,2 hektare ini terkenal dengan Danau Kakaban yang dihuni ubur-ubur tak bersengat, salah satu dari dua tempat di dunia yang memilikinya. Menariknya, Kehe Daing yang berada di sisi lain Pulau Kakaban menawarkan pengalaman berbeda dengan laguna berair jernih biru kehijauan, dikelilingi pepohonan lebat seperti sagu, mangrove, dan merbau. Nama Kehe Daing sendiri, yang berarti “lubang ikan” dalam bahasa suku Bajau, diambil dari lubang sempit tempat air laut menyusup, menciptakan keunikan laguna ini.

Daya tarik utama Kehe Daing adalah keindahan airnya yang asin seperti laut namun tetap tenang, memanjang sejauh 2 kilometer dengan kedalaman rata-rata 1,5–2 meter. Laguna ini begitu menggoda untuk aktivitas berenang, snorkeling, hingga menyelam. Saat air surut, laguna menyuguhkan pemandangan pasir putih yang menawan di tepiannya, menciptakan suasana mirip pantai kecil yang eksotis. Untuk mencapainya, pengunjung harus melalui jalur laut, misalnya dengan speedboat dari Pelabuhan Tanjung Batu seharga Rp150.000 per orang atau menyewa kapal secara rombongan dengan tarif sekitar Rp3 juta. Kendati akses menuju Danau Kakaban sudah dilengkapi dermaga apung dan jalan kayu, perjalanan ke Kehe Daing lebih menantang karena pengunjung hanya bisa masuk melalui tangga kayu saat air pasang atau melewati lubang kecil saat surut.

Namun, sebelum berkunjung, ada beberapa hal yang perlu disiapkan agar pengalaman di Kehe Daing menjadi lebih maksimal. Mengingat pulau ini tak berpenghuni, penting untuk membawa bekal makanan dan minuman yang cukup, terutama karena perjalanan laut kadang bisa menantang dengan ombak yang tinggi. Obat antimabuk laut, pakaian ganti, dan tabir surya juga sangat direkomendasikan untuk menghindari ketidaknyamanan selama perjalanan dan aktivitas di bawah terik matahari. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari saat air laut surut dan cuaca masih sejuk. Jangan lupa untuk memantau kondisi cuaca demi keselamatan perjalanan.

Dengan retribusi Rp30.000 per orang, pengalaman yang ditawarkan Kehe Daing sungguh sepadan. Suara kicau burung, debur ombak yang lembut, dan keindahan bawah air dengan terumbu karang serta ikan-ikan hias akan membuat siapa saja terpesona. Kehe Daing bukan hanya sekadar destinasi wisata; ia adalah saksi keajaiban alam yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Mengunjungi Kehe Daing berarti merasakan harmoni antara manusia dan alam, sebuah momen berharga yang layak untuk diabadikan.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×