Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah memaksimalkan potensi lahan mangrove di Pangandaran sebagai pusat edukasi dan destinasi wisata melalui program Smart Fisheries Village (SFV) yang digagas oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP). Berlokasi di Kawasan Bulaksetra seluas 17,5 hektare, program ini dijalankan oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal, dengan tujuan menjadikan kawasan tersebut sebagai contoh nyata eduwisata berbasis konservasi yang memadukan teknologi informasi berkelanjutan dengan sumber daya alam yang kaya. Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, optimistis bahwa kombinasi sumber daya alam, manusia, dan pendanaan yang terintegrasi dapat mendorong Babakan menjadi pusat eduwisata modern yang tak hanya mendidik tetapi juga menarik bagi wisatawan.
SFV Babakan mengembangkan konsep inovatif melalui program pembelajaran terkait kelautan, konservasi, dan mangrove asuh yang bertujuan mendorong masyarakat untuk aktif menanam mangrove. Dengan dukungan Teaching Factory (TEFA), kawasan ini menjadi lokasi percontohan untuk pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan yang dirancang menarik melalui pendekatan eduwisata. Dalam peresmian SFV Babakan pada 17 Desember lalu, simbolis penanaman pohon cemara laut dan mangrove jenis bruguiera serta rhizophora apiculata menjadi bukti bahwa kawasan ini terbuka untuk umum, sekaligus memperkenalkan keragaman flora mangrove seperti avicennia alba, nypa fruticans, dan sonneratia alba yang turut memperkaya ekosistem di sana.
Meski baru saja diresmikan, SFV Babakan sudah beroperasi sejak Agustus dan mulai menarik perhatian masyarakat. Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Lilly Aprilya Pregiwati, mengungkapkan bahwa pembangunan fasilitas utama seperti track eduwisata sepanjang 90 meter telah hampir selesai, dan kawasan ini sudah siap menyambut wisatawan dengan berbagai fasilitas menarik, termasuk tempat pembibitan mangrove, dermaga kayak, area ibadah, toilet, hingga kafe. Dengan tarif masuk hanya Rp5.000 per orang dan sewa kayak berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000, SFV Babakan menawarkan pengalaman wisata yang terjangkau namun penuh makna. Selain itu, kawasan ini juga melayani penyewaan tempat untuk pemotretan, seperti wisuda atau pre-wedding, dengan tarif Rp300.000 untuk 3 jam, memberikan tambahan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan pentingnya pelestarian mangrove tidak hanya untuk ekosistem tetapi juga bagi keberlanjutan populasi perikanan dan perekonomian masyarakat. Keberadaan SFV Babakan adalah bukti nyata bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan upaya peningkatan kesejahteraan komunitas lokal, serta menjadi inspirasi untuk model pengelolaan ekosistem yang serupa di berbagai wilayah lainnya. Kawasan ini tidak hanya menjadi tujuan wisata tetapi juga pusat pendidikan lingkungan yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.



