Mengenal Tuk Sikopyah: Tradisi Merawat Mata Air Lereng Gunung Slamet

Desa Serang di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan mereboisasi dan menerapkan aturan ketat terhadap perusakan tanaman di sekitar mata air. Ribuan warga dari seluruh rukun tetangga di Desa Serang berpartisipasi dalam kirab dengan mengenakan baju adat lurik khas Banyumasan, menampilkan atraksi kesenian, dan membawa gunungan hasil bumi.

Prosesi ini merupakan bagian dari Festival Gunung Slamet (FGS) VII 2024, yang berlangsung dari 12 hingga 14 Juli 2024. Salah satu puncak acara festival ini adalah prosesi pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah, sebuah ritual tahunan yang telah menjadi inti dari perhelatan budaya terbesar di Purbalingga.

Prosesi pengambilan air dimulai dengan doa dan pelepasan peserta dari Dusun Kaliurip, Desa Serang. Sebanyak 70 pria dan 70 wanita membawa lodong (tempat air dari bambu) menuju Tuk Sikopyah di lereng Gunung Slamet, sekitar 1 kilometer jauhnya. Beberapa wanita juga membawa sesaji. Sesampainya di Tuk Sikopyah, sesepuh masyarakat memimpin doa sebelum air dimasukkan ke dalam lodong.

Setelah prosesi ini, rombongan kembali ke Dusun Kaliurip dan mengirab lodong berisi air Tuk Sikopyah menuju Objek Wisata D’Las (Desa Wisata Lembah Asri) Serang. Mereka disambut oleh masyarakat desa yang membawa 48 gunungan hasil bumi, yang kemudian menjadi rebutan pengunjung setibanya di D’Las. Di sana, air Tuk Sikopyah diserahkan kepada jajaran pemerintahan Kabupaten Purbalingga, diikuti dengan pertunjukan wayang kulit singkat dan doa bersama.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah pembawa lodong mencapai 777 orang. Namun, karena panjangnya rangkaian rombongan, air Tuk Sikopyah didistribusikan langsung ke masyarakat tanpa perlu diinapkan.

Tradisi ini tidak hanya simbol rasa syukur tetapi juga menunjukkan komitmen masyarakat Desa Serang dalam melestarikan alam dan budaya setempat. Kepala Desa Serang, Sugito, mengatakan bahwa prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah telah dilakukan turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas berkah alam dan pengingat untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Prosesi ini sebagai bentuk rasa syukur karena telah diberi limpahan rezeki berupa air yang sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat Desa Serang dan sekitarnya,” ujarnya.

Sugito menjelaskan bahwa Tuk Sikopyah, salah satu mata air terbesar di lereng timur Gunung Slamet, telah menjadi sumber kehidupan bagi warga Desa Serang dan sekitarnya. Pemerintah Desa Serang berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan dengan mereboisasi dan menerapkan denda hingga Rp5 juta bagi yang merusak tanaman di sekitar mata air.

Mata air Sikopyah dianggap keramat karena terkait dengan legenda Kiai Mustafa, seorang ulama yang berperan menyebarkan Islam di kaki Gunung Slamet. Kiai Mustafa konon kehilangan kopiahnya saat berwudu di mata air tersebut, sehingga nama “Sikopyah” berasal dari kejadian ini. Kekeramatan mata air ini membantu melindungi sumber air tersebut dari eksploitasi manusia.

Tradisi Tuk Sikopyah kini menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif Desa Serang dan menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Purbalingga. Festival Gunung Slamet yang dimulai pada 2015 mengangkat tradisi budaya dan potensi wisata Desa Serang kepada publik yang lebih luas. Desa Wisata D’Las Serang telah menjadi sumber pendapatan masyarakat dengan aset mencapai Rp30 miliar, menawarkan berbagai wahana rekreasi seperti kolam renang, mini zoo, flying fox, dan perkebunan stroberi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat membuka Festival Gunung Slamet VII, menyatakan keinginannya untuk meningkatkan festival ini menjadi kegiatan berstandar internasional. Festival ini telah masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) yang merupakan kalender atraksi pariwisata dan budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Komitmen masyarakat Desa Serang dalam menjaga kelestarian lingkungan dan melestarikan budaya lokal menjadi contoh yang menginspirasi. Dengan dukungan pemerintah, festival ini tidak hanya mempererat ikatan budaya dan sosial tetapi juga meningkatkan perekonomian lokal melalui pariwisata berkelanjutan.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×