Menjelajah Lorong Waktu di Desa Adat Bena, Keajaiban Budaya Flores!

Ditemani kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk, suasana pagi di Kampung Bena justru terasa hidup dengan canda tawa anak-anak yang berlarian di pekarangan rumah mereka. Meski berada di ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut, kehangatan komunitas Bena seolah melawan cuaca dingin yang menyelimuti kawasan ini. Desa adat yang terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tersebut telah bertahan selama berabad-abad dan menyimpan cerita serta tradisi yang terus lestari hingga kini.

Saat dilihat dari ketinggian, kompleks rumah di Kampung Bena tersusun rapi memanjang menyerupai sebuah kapal besar yang berlabuh di tepi tebing, dikelilingi oleh bukit-bukit hijau dan hutan bambu yang menambah eksotisme kawasan ini. Pemandangan Gunung Inerie yang gagah menjulang di kejauhan bak piramida raksasa seolah menjadi penjaga setia dari kampung ini. Keberadaannya tidak hanya memperindah panorama, tetapi juga menyimpan nilai spiritual bagi masyarakat Bena yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Lebih dari Sekadar Pemukiman

Bena, yang dijuluki sebagai “Kampung Para Dewa”, bukanlah pemukiman biasa. Tempat ini diyakini telah berdiri sejak 12 abad silam dan memiliki filosofi mendalam yang tertanam dalam setiap detail tata ruang dan bangunannya. Saat kita memasuki kampung ini, tata letaknya yang menghadap langsung ke Gunung Inerie bukanlah kebetulan, melainkan simbol penghormatan terhadap kekuatan alam yang diyakini sebagai pelindung kampung.

Terdapat 45 rumah yang membentuk pola U, terbuat dari kayu dengan atap tinggi yang ditutupi oleh anyaman alang-alang, disebut sebagai keri. Menariknya, bahan-bahan untuk membangun rumah ini harus diambil dari lingkungan sekitar kampung. Mengambilnya dari luar dianggap melanggar norma adat. Inilah yang menyebabkan Kampung Bena tampak begitu alami dan selaras dengan alam sekitarnya. Setiap rumah dibangun di atas tumpukan batu-batu besar yang kadang tingginya bisa mencapai tiga meter, membuatnya seolah tersusun bertingkat-tingkat menyerupai terasering.

Peran Suku dan Kehidupan Sehari-hari

Sembilan suku mendiami Kampung Bena, yakni Tizi Azi, Tizi Kae, Wato, Deru Lalulewa, Deru Solamai, Ngada, Khopa, Ago, dan tentu saja Suku Bena yang dianggap sebagai suku pendiri dan tertua di kawasan ini. Masing-masing suku memiliki rumah utama yang disebut sebagai sao pu’u, tempat di mana tetua adat berkumpul untuk berdiskusi dan membuat keputusan penting. Pria-pria Bena mengelola kebun kakao, kemiri, dan cengkeh di sekitar kampung, sementara para wanita sibuk menenun kain ikat tradisional yang hasilnya dijual sebagai suvenir kepada para wisatawan.

Namun, peran rumah bagi orang Bena tidak sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas. Rumah juga menjadi pusat kehidupan sosial, tempat berkumpul untuk berbagi cerita, mendidik anak-anak, dan menjaga warisan leluhur. Setiap lekuk bangunan menyimpan kisah, setiap tiang penyangga memiliki filosofi, dan setiap batu yang digunakan untuk mendirikan rumah memiliki makna spiritual. Bagi mereka, rumah adalah wujud fisik dari perjalanan spiritual bersama leluhur.

Warisan Megalitikum yang Sarat Makna

Mengunjungi Kampung Bena seperti melintasi lorong waktu menuju era megalitikum. Di halaman tengah kampung, kita bisa menemukan batu-batu besar yang tersusun rapi, sisa peninggalan dari zaman purba yang digunakan untuk ritual adat. Setiap batu memiliki nama dan fungsi masing-masing. Watu Lewa, misalnya, adalah batu lonjong yang berfungsi sebagai meja persembahan, sedangkan Nabe adalah batu yang digunakan sebagai meja utama untuk upacara adat.

Di ujung utara kampung, terdapat Turbupati, sebuah batu besar yang berbentuk kursi khusus untuk kepala suku. Batu ini bukan sekadar tempat duduk, tetapi simbol otoritas dan kebijaksanaan. Hanya kepala suku yang boleh duduk di sana ketika ia memimpin sidang untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi di komunitas.

Simbol Leluhur: Nga’du dan Bhaga

Tak hanya batu-batu megalitikum yang menjadi daya tarik, di tengah kampung juga berdiri nga’du dan bhaga, dua bangunan yang selalu berpasangan dan saling berhadapan di halaman utama kampung, sesuai dengan jumlah suku yang ada. Nga’du adalah simbol leluhur laki-laki yang berbentuk seperti tiang kayu beratap ijuk dan menyerupai pondok kecil, sementara bhaga adalah representasi leluhur perempuan yang berbentuk miniatur rumah adat.

Ini bukan sekadar simbol, tetapi juga bukti betapa eratnya hubungan antara masyarakat Bena dengan leluhur mereka. Ketika hewan seperti kerbau atau babi dikorbankan dalam upacara adat, tanduk dan taringnya dipajang di depan rumah sebagai lambang kekuatan dan status sosial keluarga tersebut. Semakin banyak tanduk yang dipajang, semakin tinggi pula posisi keluarga tersebut dalam struktur sosial masyarakat.

Pesona yang Mengundang Wisatawan

Tak heran jika keindahan dan kekayaan budaya Kampung Bena menarik minat banyak wisatawan, terutama dari Eropa seperti Jerman dan Italia. Mereka rela menempuh perjalanan panjang dari Labuan Bajo, sekitar 7-8 jam perjalanan darat, untuk sampai di kampung ini. Sedangkan dari Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada, jaraknya hanya sekitar 22 kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.

Saat tiba, wisatawan disambut dengan hangat oleh tetua adat yang mengalungkan selendang sebagai tanda penghormatan. Kampung ini terbuka untuk pengunjung mulai pukul 08.00 hingga 17.00 Wita. Tarif masuknya pun cukup terjangkau, hanya Rp20.000 untuk pengunjung lokal dan Rp25.000 untuk wisatawan asing. Hasil dari penjualan tiket ini digunakan untuk perawatan kampung, termasuk perbaikan rumah dan pemeliharaan bangunan-bangunan bersejarah.

Kampung yang Melampaui Zaman

Kampung Bena bukan sekadar tempat tinggal bagi 368 jiwa yang mendiami kawasan ini, tetapi juga simbol ketahanan budaya di tengah gempuran modernitas. Di sini, kita tidak hanya melihat rumah, batu, atau kain tenun. Kita melihat warisan hidup yang masih bertahan—harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Mengunjungi Bena adalah seperti membuka lembaran buku sejarah yang belum selesai ditulis, di mana setiap kunjungan, setiap percakapan, dan setiap interaksi dengan penduduknya menambah babak baru dalam kisah yang abadi.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×