Dalam periode 2024-2028, industri kosmetik di Indonesia diprediksi akan tumbuh rata-rata sebesar 5,35% per tahun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pesatnya perkembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) kosmetik, yang mendapatkan dukungan besar melalui Program Peningkatan Daya Saing IKM.
Sejak pascapandemi Covid-19, sektor kosmetik di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan, menjadikannya salah satu sektor yang sangat potensial dalam perekonomian nasional. Dengan pangsa pasar yang luas dan terus berkembang, para pelaku industri kosmetik dalam negeri memiliki kesempatan besar untuk meraih keuntungan.
Namun, untuk bisa bersaing di pasar yang kompetitif ini, khususnya bagi pelaku IKM, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Mereka perlu memahami perubahan preferensi konsumen dan menyesuaikan produk sesuai dengan tren yang sedang berkembang. Selain itu, strategi pemasaran yang efektif juga menjadi kunci untuk menembus pasar yang semakin dinamis.
Di sinilah peran penting Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA). Melalui Program Peningkatan Daya Saing IKM, pemerintah berupaya memperkuat kapasitas produksi dan inovasi pelaku IKM, termasuk industri kosmetik. Program ini memberikan berbagai bentuk dukungan seperti pelatihan, pendampingan teknis, akses terhadap bahan baku berkualitas, dan fasilitasi pemasaran produk. Sejak 2019, program ini juga telah menginisiasi kompetisi startup kosmetik yang bertujuan untuk menjaring talenta baru dalam industri ini, dengan edisi terbaru yang digelar sejak 30 Juli 2024 dengan slogan “Grow and Classy.”
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, dalam sebuah keterangan tertulis menyampaikan bahwa pasar kosmetik Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansif. Data menunjukkan bahwa total pendapatan industri kosmetik di Indonesia meningkat sebesar 48% dari 2021 hingga 2024, dari USD 1,31 miliar (sekitar Rp 21,45 triliun) menjadi USD 1,94 miliar (sekitar Rp 31,77 triliun). Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2028, menciptakan peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh para pelaku industri, termasuk IKM.
Kondisi pasar yang berkembang juga terlihat dari peningkatan jumlah pelaku usaha kosmetik. Data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha kosmetik yang tergabung dalam Perkosmi meningkat dari 819 pada 2021 menjadi 1.039 pada akhir 2023. Pada tahun 2024, jumlah IKM kosmetik di Indonesia tercatat lebih dari 1.500 unit usaha yang tersebar di berbagai daerah, dengan fokus pada produk skincare, makeup, parfum, dan perawatan tubuh. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri, tren penggunaan produk alami, dan kemajuan e-commerce yang mempermudah akses pasar.
IKM kosmetik memainkan peran krusial dalam industri ini, mengingat 89% dari pelaku usaha kosmetik di Indonesia adalah IKM. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi, IKM kosmetik juga memberikan dampak sosial yang signifikan, seperti penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan inovasi produk. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa sektor kosmetik memiliki potensi besar, terutama dengan gaya hidup masyarakat yang semakin peduli terhadap perawatan diri. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong IKM kosmetik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar domestik dan internasional.
Peningkatan daya saing IKM kosmetik adalah kunci untuk mengukuhkan posisi Indonesia di industri kosmetik global. Dukungan pemerintah melalui program seperti Peningkatan Daya Saing IKM sangat vital, karena tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berperan dalam menciptakan lapangan kerja dan memacu inovasi lokal. Kompetisi startup kosmetik yang digelar rutin merupakan salah satu upaya strategis untuk menemukan dan mengembangkan talenta baru dalam industri ini, memperkuat jaringan antar-pelaku usaha, serta meningkatkan keterampilan dan inovasi produk. Dengan pendekatan ini, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama di pasar kosmetik global, sekaligus memberdayakan ekonomi lokal secara berkelanjutan.



