Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan pentingnya internet sehat bagi anak-anak Indonesia di tengah perkembangan pesat era digital. Dalam Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-40 pada Selasa (23/7/2024), Jokowi mengajak semua pihak untuk memastikan anak-anak bisa tumbuh dengan aman dan positif di dunia maya.
“Di era teknologi dan digital yang berkembang dengan cepat, mari kita pastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan berinternet sehat,” kata Presiden Jokowi melalui akun X @jokowi.
Presiden menegaskan pentingnya menjaga empati dan nilai kepedulian pada anak-anak, serta mendorong mereka untuk mengelola kebebasan berkreasi dan berinovasi dengan bijak di era digital ini.
Dalam acara peringatan HAN di Istora Papua Bangkit, Jayapura, Papua, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menghadiri perayaan yang dihadiri sekitar 7.000 anak. Acara tersebut menampilkan berbagai atraksi, termasuk pertunjukan dari anak-anak berkebutuhan khusus, permainan alat musik ukulele, musik suling tambur, tarian kolosal, peragaan busana, drum band, polisi cilik, dan menghitung cepat.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menetapkan peringatan Hari Anak Nasional 2024 sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Tema HAN ke-40 Tahun 2024 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan enam subtema yang relevan dengan isu-isu anak terkini, seperti Anak Cerdas Berinternet Sehat, Suara Anak Membangun Bangsa, Pancasila di Hati Anak Indonesia, Dare to Lead and Speak Up: Anak Pelopor dan Pelapor, Pengasuhan Layak untuk Anak: Digital Parenting, serta Anak Merdeka dari Kekerasan, Perkawinan Anak, Pekerja Anak, dan Stunting.
Salah satu subtema HAN 2024 adalah Anak Cerdas Berinternet Sehat, yang diharapkan dapat membantu anak-anak Indonesia memahami dan memilah mana yang baik dan tidak baik, serta mencegah dampak buruk dari digitalisasi dan penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Menghadapi Tantangan Internet bagi Anak-anak
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), anak-anak Indonesia berjumlah 79,4 juta jiwa atau 28,82 persen dari total penduduk saat ini. Mereka adalah masa depan Indonesia, yang akan memimpin ketika negara ini mencapai 100 tahun kemerdekaan pada 2045.
Namun, perkembangan teknologi digital juga membawa tantangan. Survei Kementerian PPPA dan UNICEF pada 2023 menunjukkan bahwa hampir 95 persen anak usia 12-17 tahun di Indonesia mengakses internet minimal dua kali sehari. Anak-anak dan remaja memanfaatkan internet untuk keperluan akademik, belajar keterampilan baru, menjalin relasi, mencari hiburan, serta belajar berkompetisi dan strategi melalui gim daring. Namun, hal ini juga membuat mereka rentan terhadap kejahatan siber modern.
Laporan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) pada April 2024 mengungkapkan bahwa Indonesia berada di level darurat kasus pornografi anak, dengan konten yang mencapai 5,5 juta dalam kurun waktu 2019-2023. Indonesia berada di peringkat ke-4 di dunia dan ke-2 di ASEAN dalam kasus ini. Selain itu, Satgas Pencegahan dan Penanganan Perjudian Daring menemukan bahwa pemain judi online usia di bawah 10 tahun mencapai 2 persen atau 80 ribu anak dari total sekitar 4 juta pemain.
Sebagai upaya melindungi anak di dunia maya, pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Presiden (Ranperpres) tentang Peta Jalan Perlindungan Anak dalam Ranah Daring. Berbagai instansi pemerintah, lembaga negara, dan elemen masyarakat turut mendukung perumusan aturan tersebut. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah berkolaborasi lintas kementerian dan lembaga guna memperkuat layanan internet sehat bagi anak, termasuk dalam penyusunan peta jalan perlindungan anak di ranah daring dan penyelenggaraan sistem transaksi elektronik ramah anak.
Peran Keluarga dan Masyarakat
Pemerintah mendorong keluarga sebagai lingkaran pertama dan terdekat dalam kehidupan anak untuk berperan aktif dalam pengasuhan anak di dunia digital. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, menilai bahwa orang tua memiliki tanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak dan memastikan anak tetap aman saat berselancar di dunia maya.
“Saya mengajak orang tua untuk memiliki kemampuan mendidik anak-anak mereka menggunakan internet dengan bijak,” ungkapnya.
Menteri Bintang Puspayoga menegaskan pentingnya kerjasama antara orang tua dan anak untuk meningkatkan kecerdasan digital sebagai benteng perlindungan anak-anak di ranah daring.
- Mempersiapkan Generasi Masa Depan: Menjaga anak-anak agar berinternet sehat adalah investasi jangka panjang dalam membentuk generasi penerus yang cerdas, kreatif, dan beretika. Mereka akan tumbuh dengan nilai-nilai empati dan kepedulian yang kuat, siap memimpin Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
- Mengatasi Tantangan Kejahatan Siber: Dengan meningkatnya akses anak-anak ke internet, risiko kejahatan siber juga meningkat. Kebijakan internet sehat adalah langkah preventif untuk melindungi mereka dari ancaman seperti pornografi anak, cyberbullying, dan perjudian online.
- Membangun Keterampilan Digital: Mengajarkan anak-anak tentang penggunaan internet yang bijak tidak hanya melindungi mereka dari bahaya, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan digital yang relevan di era teknologi. Ini akan meningkatkan daya saing mereka di masa depan.
- Peningkatan Peran Orang Tua: Peran orang tua sangat krusial dalam pengawasan dan pendidikan digital anak-anak. Dukungan dari keluarga akan memastikan bahwa anak-anak dapat memanfaatkan teknologi dengan cara yang positif dan produktif.
- Kerjasama Lintas Sektor: Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan ekosistem internet sehat. Melalui program-program seperti Ranperpres dan kerjasama dengan KPAI, langkah-langkah yang lebih terkoordinasi dan efektif dapat diambil untuk melindungi anak-anak.
- Pemberdayaan Anak-anak: Dengan memberikan edukasi tentang internet sehat, anak-anak akan lebih mampu mengidentifikasi dan menghindari konten negatif. Ini memberdayakan mereka untuk membuat pilihan yang lebih baik dan bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi.
Melalui upaya bersama ini, diharapkan kita dapat menciptakan lingkungan digital yang aman dan mendukung bagi anak-anak, memastikan mereka tumbuh dengan baik di era teknologi yang terus berkembang.



