Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) semakin mempertegas komitmennya dalam mendukung transisi energi Indonesia dengan mengembangkan bisnis bioetanol. Langkah strategis ini diwujudkan melalui rencana pembangunan pabrik bioetanol yang didukung oleh penandatanganan dua perjanjian kerja sama pada Kamis (5/9/2024).
Pertama, Pertamina NRE menggandeng PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam kemitraan strategis, dan kedua, mereka bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penandatanganan ini dilakukan oleh Chief Executive Officer Pertamina NRE, John Anis, bersama Direktur Utama SGN, Mahmudi, serta Penjabat (Pj) Gubernur NTT, Ayodhia G. L. Kalake.
“Kolaborasi ini adalah langkah penting dalam pengembangan bioetanol di tanah air. Kami berharap kerja sama dengan SGN dan Pemprov NTT dapat mempercepat transisi energi nasional sekaligus membawa dampak positif bagi Indonesia,” ungkap John Anis dalam pernyataannya, Sabtu (7/9/2024).
Pertamina NRE dan SGN telah sepakat untuk membangun pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang akan memiliki kapasitas produksi mencapai 30.000 kiloliter per tahun. Pabrik ini direncanakan untuk memanfaatkan molase, produk samping dari pengolahan tebu, sebagai bahan baku utamanya.
Sementara itu, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT difokuskan pada pengembangan bioetanol melalui identifikasi lahan potensial untuk tanaman energi seperti tebu, jagung, dan singkong. Langkah ini tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga diharapkan membawa manfaat besar bagi pertanian lokal dan kesejahteraan masyarakat di NTT.
Pj. Gubernur NTT, Ayodhia G. L. Kalake, menyambut baik inisiatif ini, yang diyakini akan mempercepat kemajuan daerah dan membuka lapangan kerja baru. “NTT memiliki potensi besar untuk tanaman energi seperti jagung, yang akan mendukung pengembangan bioetanol oleh Pertamina NRE,” kata Ayodhia.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN). Pertamina sendiri telah mulai mengimplementasikan bioetanol dalam produk Pertamax Green 95 pada tahun 2023, yang merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi impor BBM dan mendukung swasembada energi nasional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menekankan pentingnya kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060. “Pertamina terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan keberhasilan transisi energi nasional,” ujar Fadjar.
Ke depan, Pertamina NRE diharapkan menjadi penyedia utama bioetanol yang akan dipasarkan melalui PT Pertamina Patra Niaga, sejalan dengan komitmen Pertamina Group untuk mendukung energi bersih dan berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang bisnis, tapi juga tentang masa depan energi Indonesia yang lebih hijau dan mandiri.



