Senyum cerah menghiasi wajah Nur Santika saat berdiri di depan kaca jendela hijau muda, menunggu gilirannya untuk absensi elektronik. Siswi kelas VIII SMP Negeri 2 Wawonii Utara itu baru saja memindai kartu pelajarnya menggunakan teknologi berbasis internet. Bersama teman-temannya, Nur berbaris rapi di pintu masuk ruang kelas, menggenggam kartu identitas pelajar berwarna putih. Sekilas, kartu ini tampak biasa, seperti kartu pelajar pada umumnya. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kode batang (barcode) yang menggantikan foto siswa. Kode ini akan di-scan di mesin pemindai yang terhubung dengan monitor di ruang guru, mencatat data absensi secara otomatis.
Sistem absensi digital ini diwajibkan bagi semua siswa setiap hari, baik saat datang maupun pulang sekolah. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, data siswa akan muncul di layar, mencatat jam kedatangan, status terlambat atau tepat waktu, hingga poin yang diperoleh. Seperti hari itu, Nur datang pukul 6:48:38, lebih awal 27 menit dari waktu masuk pukul 7:15. Dengan sistem ini, kedisiplinan siswa diukur melalui akumulasi poin harian, yang bisa bertambah jika mereka tepat waktu atau berkurang jika terlambat. Poin ini kemudian menjadi dasar pemberian penghargaan, mendorong siswa untuk terus memperbaiki kedisiplinan mereka.
Sistem absensi ini didukung oleh aplikasi berbasis web bernama SABAR (Sistem Absensi Barcode), yang dikembangkan oleh pihak sekolah dan telah diuji coba sejak 2022. Kepala SMPN 2 Wawonii Utara, Asriadi Hambali, menyebut aplikasi ini membuat administrasi absensi menjadi lebih efisien dan akurat. Lebih dari itu, SABAR juga berkontribusi dalam membentuk karakter disiplin siswa, memotivasi mereka untuk datang tepat waktu, dan mengurangi kebiasaan terlambat. Data absensi yang tersimpan otomatis juga menjadi alat kontrol yang transparan bagi pihak sekolah.
Inovasi SABAR tidak berhenti di situ. Sekolah ini juga mengembangkan Sistem Digital Perpustakaan (SDP), aplikasi berbasis web untuk mengelola data perpustakaan. Dengan teknologi barcode, siswa dapat memindai kartu perpustakaan mereka untuk mengakses buku-buku dan mencatat kunjungan. SDP dirancang untuk mendorong minat baca siswa sekaligus mempermudah pengelolaan koleksi buku. Inisiatif ini menciptakan ekosistem literasi yang lebih modern, menghubungkan teknologi dengan kebutuhan pendidikan.
Di balik inovasi ini, terdapat sosok Ansarullah Thamrin Mardhan, yang menjadi pengembang utama SABAR dan SDP. Sebagai mantan guru SMPN 2 Wawonii Utara dan kini Kepala SMPN 1 Wawonii Timur, ia meraih penghargaan atas inovasinya di bidang pendidikan. SABAR dan SDP tidak hanya mengubah cara administrasi dilakukan di sekolah, tetapi juga membangun fondasi untuk penerapan teknologi di lingkungan pendidikan daerah.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran BAKTI Komdigi dalam membuka akses telekomunikasi di Kabupaten Konawe Kepulauan. Hingga 2018, masyarakat masih menghadapi kesulitan sinyal dan harus mencari titik tertentu untuk mengakses internet. Namun, dengan pembangunan 35 menara BTS dan 119 layanan internet AKSI, tantangan itu perlahan teratasi. Akses internet yang merata kini mendorong berbagai inovasi digital, termasuk di dunia pendidikan. Selain itu, internet juga membuka peluang masyarakat untuk memasarkan produk lokal, seperti hasil perikanan dan perkebunan, ke pasar yang lebih luas, sekaligus mengangkat potensi pariwisata Pulau Wawonii.
Inisiatif teknologi ini membuktikan bagaimana transformasi digital mampu mengubah kehidupan masyarakat, mempercepat kemajuan pendidikan, dan membuka peluang ekonomi baru. Melalui aplikasi seperti SABAR dan SDP, bukan hanya disiplin dan literasi siswa yang meningkat, tetapi juga kepercayaan bahwa teknologi adalah kunci masa depan yang lebih baik. Wawonii tidak hanya mencetak prestasi di bidang pendidikan, tetapi juga menjadi simbol bagaimana teknologi dapat mengatasi keterbatasan geografis dan menciptakan perubahan positif.



