Dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-14, SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) menggelar diskusi kebijakan tentang percepatan penurunan stunting sekaligus menyampaikan temuan awal dari studi Action Against Stunting Hub (AASH) pada Kamis, 13 Februari. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga bentuk komitmen SEAMEO RECFON dalam menghadapi tantangan besar stunting di Indonesia. Dengan didukung oleh United Kingdom Research and Innovation – Global Challenges Research Fund (UKRI GCRF), diskusi ini menghadirkan berbagai ahli dari kementerian, lembaga, hingga perguruan tinggi yang memiliki fokus dalam upaya menurunkan angka stunting secara signifikan.
Pelaksana tugas (Plt.) Direktur SEAMEO RECFON, Herqutanto, menegaskan bahwa stunting bukan sekadar isu gizi buruk semata, melainkan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan yang tidak tepat, pola pengasuhan yang kurang optimal, sanitasi dan kebersihan yang buruk, hingga minimnya stimulasi psikososial. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mengatasi stunting tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor saja, tetapi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan kolaborasi lintas bidang.
Lebih lanjut, Herqutanto menekankan pentingnya memahami interaksi dan sinergi antar faktor pemicu stunting. Data yang dihasilkan dari studi AASH diharapkan bisa menjadi referensi dalam menyusun kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Dalam banyak kasus, kebijakan sering kali hanya berfokus pada satu aspek saja, padahal realitasnya, permasalahan ini jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, dengan adanya diseminasi hasil penelitian ini, SEAMEO RECFON berharap dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi para pemangku kepentingan agar target penurunan stunting di Indonesia dapat dicapai lebih cepat.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, juga menyoroti pentingnya penelitian berbasis bukti dalam perumusan kebijakan publik. Ia berharap bahwa studi ini dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih efektif dan aplikatif, terutama untuk diterapkan di wilayah-wilayah yang memiliki angka stunting tinggi seperti Lombok. Selama ini, banyak kebijakan yang dibuat tanpa mempertimbangkan data dan bukti ilmiah yang memadai, sehingga efektivitasnya sering kali dipertanyakan. Dengan adanya studi seperti AASH, kebijakan yang dihasilkan diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menegaskan bahwa target penurunan angka stunting menjadi 18% pada tahun 2025 memerlukan pendekatan yang holistik dan integratif. Salah satu strategi yang kini diutamakan adalah melalui pengembangan anak usia dini dengan kerangka PAUD HI (Holistik Integratif), yang mencakup berbagai aspek penting dalam pertumbuhan anak. Strategi ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek gizi, tetapi juga memperhatikan faktor pendidikan, kesehatan, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Penelitian AASH sendiri dilakukan di tiga negara, yaitu India, Indonesia, dan Senegal, dengan Lombok Timur sebagai lokasi studi di Indonesia. Studi ini mengamati ibu hamil dan anak mereka hingga usia 24 bulan, dengan berbagai intervensi seperti pemberian makanan tambahan berupa telur untuk meningkatkan asupan gizi selama kehamilan. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan studi kasus-kontrol, analisis lingkungan belajar, serta pemetaan sistem pangan di wilayah tersebut. Dengan pendekatan yang komprehensif ini, studi AASH berusaha mengidentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi terhadap stunting, tidak hanya dari segi gizi tetapi juga dari aspek epigenetik, kesehatan saluran cerna, hingga lingkungan pangan.
Pendekatan yang digunakan dalam AASH dikenal sebagai “whole child approach,” yang mencakup berbagai aspek penting dalam perkembangan anak. Komponen fisik meliputi gizi, epigenetik, serta kesehatan saluran cerna. Komponen kognitif mencakup aspek tumbuh kembang anak serta asuhan psikososial. Sementara itu, komponen pendidikan berfokus pada lingkungan belajar anak usia dini, dan komponen pangan mencakup faktor-faktor seperti sanitasi, keamanan pangan, serta rantai nilai pangan. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya berusaha memahami penyebab stunting dari satu sisi, tetapi melihatnya secara lebih luas dan menyeluruh.
Diskusi yang dipandu oleh Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, semakin memperkaya wawasan peserta dengan menghadirkan berbagai perspektif dari para ahli. Senior Researcher SEAMEO RECFON sekaligus Country Lead AASH Indonesia, Umi Fahmida, menegaskan bahwa temuan dari studi ini memiliki nilai strategis dalam perumusan kebijakan. Data yang dihasilkan tidak hanya berkontribusi bagi dunia akademik, tetapi juga diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan di tingkat nasional. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian bukan sekadar menghasilkan temuan, tetapi juga harus memiliki dampak nyata terhadap kebijakan publik.
Salah satu poin penting yang diungkap dalam studi ini adalah bahwa stunting bukan hanya masalah kurangnya asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kesehatan saluran cerna, infeksi, mikrobiota, keamanan pangan, hingga kesehatan mental ibu. Artinya, solusi untuk mengatasi stunting harus mencakup pendekatan yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada peningkatan asupan gizi tetapi juga pada aspek lingkungan dan kesehatan secara menyeluruh.
Harapannya, diskusi ini dapat menjadi titik awal dalam membangun kebijakan berbasis bukti yang lebih efektif serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya menurunkan angka stunting di Indonesia. Melalui kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya, tantangan besar ini dapat diatasi secara lebih sistematis dan berkelanjutan.



