Memulai dengan mengirimkan proposal kerja sama ke beberapa sekolah di Jerman, SMAN 1 Bukittinggi akhirnya berhasil menjalin hubungan pertukaran pelajar dengan Hans Carosa Gymnasium di Berlin, Jerman. Empat siswa bersama dua guru pendamping dari SMAN 1 Bukittinggi berangkat untuk mengikuti program ini.
Program pertukaran pelajar ini berlangsung dari tanggal 24 hingga 30 Juni 2024. Selama satu minggu penuh, siswa-siswi mendapatkan wawasan mendalam tentang berbagai program yang berfokus pada energi terbarukan dan keberlanjutan. Tidak heran jika program-program ini membangkitkan semangat mereka. Pada hari pertama, mereka mengunjungi Klärwerks (fasilitas pengolahan limbah) dan Biokompostieranlage (fasilitas pengolahan biokompos) di Postdam, di mana mereka belajar tentang sistem pengolahan air dan proses pengomposan. Kemudian, mereka berjalan-jalan di taman Das Schloss Sans Souci sambil mempelajari sejarah istana tersebut.
Para siswa juga berkesempatan mengunjungi Reichstag atau parlemen Jerman di pusat kota Berlin. “Kami mempelajari sistem pemerintahan Jerman dan bagaimana parlemen berperan dalam negara. Selain itu, kami juga mempelajari perpolitikan Jerman, khususnya Berlin, dari tahun ke tahun,” ungkap Caselia Angela, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Bukittinggi.
Di Hans Carosa Gymnasium, siswa-siswi SMAN 1 Bukittinggi juga melakukan presentasi serta diskusi tentang sumber daya alam air, angin, dan nuklir, serta membahas permasalahan lingkungan global. Tema ini tentu tidak biasa didiskusikan di sekolah-sekolah Indonesia, mengingat Jerman merupakan negara yang sangat memperhatikan sektor energi terbarukan.
“Kemajuan teknologi di negara ini, terutama dalam menanggulangi pemanasan global dan pengembangan sumber energi yang ramah lingkungan, sangat inspiratif dan dapat kita contoh di Indonesia,” ungkap Shalsabila, siswi kelas 11 SMAN 1 Bukittinggi.
SMAN 1 Bukittinggi juga memperkenalkan kebudayaan Indonesia selama program ini. Pada 27 Juni 2024, para siswa mengadakan pertunjukan seni di Aula Hans Carosa Gymnasium, menampilkan tari piring dan Indang yang disambut meriah oleh para siswa Jerman.
Untuk bisa mengikuti program ini, siswa-siswi SMAN 1 Bukittinggi harus memenuhi beberapa kriteria. Tahun ini, seleksi dilakukan untuk siswa-siswi anggota ekskul Bahasa Jerman Landkarte. Pengetahuan tentang 17 Program Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dirancang oleh PBB juga menjadi pertimbangan, selain kemampuan berbahasa Jerman dan Inggris.
Selama di Berlin, siswa-siswi tinggal dengan keluarga angkat yang memperlakukan mereka dengan sangat baik. “Pengalaman hidup bersama keluarga angkat di Jerman sangat berharga. Mereka menyambut saya dengan hangat dan memperlakukan saya seperti keluarga sendiri,” kata Fania Naila Lindra, siswi kelas 10 SMAN 1 Bukittinggi.
Program ini berakhir pada 30 Juni 2024 dengan penutupan di Pfaueninsel, Berlin yang dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin, Roniyus Marjunus. Roniyus mengapresiasi kerja sama ini dan berharap agar siswa-siswi SMAN 1 Bukittinggi dapat melanjutkan studi di Jerman di masa depan.
Kepala Sekolah Angela berharap kegiatan ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Menurutnya, program ini tidak hanya meningkatkan semangat siswa dalam mempelajari bahasa Jerman dan budayanya, tetapi juga mempererat hubungan antara SMAN 1 Bukittinggi dan Hans Carosa Gymnasium. “Kami berharap hubungan ini semakin erat di masa depan,” tutupnya.
Pertukaran pelajar seperti ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperluas cakrawala mereka dan belajar tentang dunia luar secara langsung. Selain itu, program ini dapat membangun jembatan budaya antara negara, membantu siswa memahami dan menghargai perbedaan, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi warga dunia yang kompeten. Bagi Indonesia, program ini bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi sumber daya lokal kita ke dunia internasional, sekaligus mengambil pelajaran berharga dari negara maju seperti Jerman dalam bidang teknologi dan keberlanjutan.



